Berlomba Dalam Kebajikan
Posted by nubowo on Jun 12, 2011 in Maqala | 0 comments
Para sahabat Nabi senantiasa berlomba mengabdikan hidupnya dalam kebajikan demi tegaknya kalimat Allah di muka bumi. Umar ibn Khatab r.a, misalnya, senantiasa berlomba dengan Abu Bakar dalam berinfak, sebagaimana yang diabadikan dalam hadis shahih dari Umar ibn Khatab.
“Kami telah diperintah Rasulullah untuk bersedekah, lalu Beliau setuju apa yang ada padaku”. Kemudian aku berkata, “Pada hari ini aku akan mendahului Abu Bakar. Aku akan mengalahkannya sehari”. Rasulullah bersabda kepadaku, “Apakah engkau telah meninggalkan bagian untuk keluargamu?”. Kemudian aku menjawab, “Separonya”.
Kemudian Abu Bakar datang dengan semua harta yang dimilikinya. Lalu Rasulullah bertanya kepadanya, Apakah engkau meninggalkan bagian untuk keluargamu?”. Abu Bakar menjawab, “Aku meninggalkan semuanya untuk Allah dan Rasulnya”. Lalu aku berkata, Aku tidak pernah mendahuluimu untuk sesuatu apapun selamanya.
Itulah yang dilakukan Umar ibn Khatab dalam rangka memenangkan kompetisi amal shalih atas Abu Bakar, meski beliau selalu dikalahkan oleh Khalifah pertama tersebut. Sebuah manifestasi nyata dari seruan imperatif Allah pada QS. Al-Maidah: 48; QS. Al-Baqarah: 148.
Istibâq al-khairât, berlomba-lomba dalam kebajikan, dinilai bukan dari ukuran, jumlah nominal karya kebajikan tersebut, tetapi yang paling utama adalah spirit untuk senantiasa berbuat baik dan hati yang ikhlas. Spirit kokoh serta hati ikhlas menentukan sikap untuk menerima setiap hasil perlombaan. Ketika mengalami kekalahan, ia tidak mudah menyerah dan putus harapan. Tatkala menang, tidak lantas merasa yang terbaik. Yang terpenting adalah terus berkarya, kalah atau menang untuk mempersembahkan yang terbaik bagi Allah dan Rasul serta makhluk ciptaan-Nya.
Dewasa ini, putra-putri bangsa beramai-ramai mencalonkan dirinya sebagai pemimpin negeri ini. Mereka siap berlomba memperebutkan pucuk pimpinan tertinggi pada setiap pesta rakyat. Harapan kita, tentunya, setiap calon benar-benar ber-fastabiqul khairat bermodalkan spirit dan keikhlasan tinggi. Dua modal utama untuk melangsungkan ‘pertarungan’ secara fair, jujur, adil dan menerima segala resiko kekalahan dan kemenangan.
Tetap berjuang terus demi rakyat, dan tidak patah semangat jika menuai kegagalan, apalagi sakit hati, dendam diiringi perusakan. Jika menang, mengabdikan dirinya bagi sebesar-besar kepentingan rakyat, bukan sebesar-besar kepentingan kerabat dan teman dekat. Dan ikhlas lillahi ta’ala dalam menjalankan amanah bangsa. Sehingga, tindakan apapun yang bertentangan dengan Allah dan rakyat selalu dihindarkan dan dijauhi.
Wal-hasil, sosok pemimpin yang siap berkompetisi secara bijak dan bajiklah yang akan mengeluarkan bangsa Indonesia dari jerat gurita berbagai krisis selama ini. Semoga !! Wallahu a’lam
