<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>The Nubowo</title>
	<atom:link href="http://nubowo.web.id/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://nubowo.web.id</link>
	<description>Official Website</description>
	<lastBuildDate>Tue, 01 May 2012 09:15:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Menjadi Manusia Paripurna</title>
		<link>http://nubowo.web.id/menjadi-manusia-paripurna</link>
		<comments>http://nubowo.web.id/menjadi-manusia-paripurna#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Apr 2012 07:33:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nubowo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Maqala]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nubowo.web.id/?p=493</guid>
		<description><![CDATA[I. Indonesia, sebagai negara Muslim terbesar di dunia, tengah terus berpacu dalam pembangunan, baik mental maupun fisik. Kita menyaksikan, betapa sekarang ini Kaum beriman dapat dengan bebas menjalankan agama dan keyakinannya masing-masing di masjid, gereja, wihara, dan pura yang dibangun secara indah dan megah. Betapa sekarang ini kita saksikan fenomena &#8220;kebangkitan agama&#8221; terjadi di mana-mana, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>I.</p>
<p>Indonesia, sebagai negara Muslim terbesar di dunia, tengah terus berpacu dalam pembangunan, baik mental maupun fisik. Kita menyaksikan, betapa sekarang ini Kaum beriman dapat dengan bebas menjalankan agama dan keyakinannya masing-masing di masjid, gereja, wihara, dan pura yang dibangun secara indah dan megah. Betapa sekarang ini kita saksikan fenomena &#8220;kebangkitan agama&#8221; terjadi di mana-mana, yang ditandai dengan banalisasi simbol-simbol agama di ruang publik, jalan-jalan, mal-mal, gedung perkantoran hingga istana kepresidenan. Selain itu, sekarang ini kita menyaksikan kesadaran beragama yang termanifestasikan dalam bidang pendidikan seperti sekolah-sekolah berbasis agama, bidang ekonomi seperti munculnya BMT dan bank muamalat, dan juga pengajian atau pengkajian agama yang tumbuh subur di kampung-kampung dan di kota-kota.</p>
<p>Namun, upaya tersebut juga menghadapi pelbagai tantangan yang tidak kalah besar. Modernitas tidak saja menghadirkan kemudahan-kemudahan dan perbaikan kualitas hidup berkat invensi teknologi dan demokratisasi informasi (internet), tetapi juga pragmatisme dan hedonisme yang menggerus akal sehat. Selain itu, modernitas juga makin menjauhkan kesejahteraan dan keadilan dari kelompok-kelompok marjinal. Dan pada saat yang sama, kesejahteraan dan kenikmatan hidup semakin dekat dan mudah diakses oleh segelintir elit politik, ekonomi dan sosial masyarakat kita. Inilah problem besar yang tengah dihadapi bangsa Indonesia: kesejahteraan dan keadilan yang tidak merata.</p>
<p>Di hampir tiap level masyarakat, yang perlu menjadi perhatian kita bersama, krisis moral semakin telanjang dan terang benderang. Narkoba, seks bebas, tawuran pelajar kriminalitas remaja, radikalisme anak muda, pornografi adalah antinomi program-program pembangunan nasional yang tengah digalakkan selama ini. Banyak pendapat yang menyatakan bahwa merajalelanya problem-problem tersebut disebabkan disfungsi agama di tengah modernitas. Dalam hal ini, agama dinilai kehilangan tuahnya sebagai penjaga moral bangsa yang universal. Agama tidak lagi menjadi sumber penghayatan prinsip-prinsip luhur agama yang bersifat universal seperti cinta kasih, perhatian kepada kaum miskin, keadilan, kesetaraan, kemajuan, serta solidaritas dan tanggung jawab sosial.</p>
<p>Banalisasi kesadaran beragama ini cukup membantu pemerintah dan negara dalam mewujudkan masyarakat yang cerdas, bertakwa dan juga mandiri. Tidak dapat dipungkiri, selain itu bahwa dalam satu dasawarsa terakhir, tepatnya setelah Reformasi 1998, Indonesia juga menyaksikan menguatnya gejala fundamentalisme keagamaan yang setia pada intoleransi, fanatisme dan kebencian pada kemajemukan. Fundamentalisme agama ditandai oleh semangat literalisme skripturalistik dalam memahami teks-teks keagamaan, sehingga yang dilahirkan adalah tafsir formalistik agama yang mengabaikan universalitas agama sebagai pedoman dan penontun kehidupan. Formalisme ini seterusnya melahirkan sikap abai terhadap kesimbangan mayoritas-minoritas dan kemajemukan.</p>
<p>Dalam konteks inilah, perlu kiranya kita kembali membincang hubungan antara agama dan pembangunan nasional dengan bantuan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut: Apakah agama selaras dengan gagasan dan proyek pembangunan nasional? Apa peran dan sumbangsih yang bisa dilakukan agama bagi pembangunan? Dan terakhir, apa yang bisa dilakukan untuk mendorong partisipasi agama dalam pembangunan nasional dan dalam menghadapi persoalan-persoalan sosial, politik, ekonomi dan keagamaan kontemporer?</p>
<p>II.<br />
Dalam diskursus agama, sosial dan ekonomi, korelasi agama dan pembangunan dianggap masih belum terang dan&#8211;dalam beberapa aspek, masih bersifat polemis. Pendapat nihilistik mengatakan, agama dan pembangunan pada dasarnya tidak mempunyai hubungan apapun, mengingat keduanya memiliki wilayah yang berbeda dan tidak saling pengaruh-memengaruhi. Maju dan tidak majunya suatu pembangunan, lebih disebabkan oleh faktor politik, sumberdaya alam dan manusia, serta kebijakan ekonomi. Negara Eropa yang Katolik/Kristen ada yang maju dan ada juga yang miskin (Eropa Timur). Di Eropa, kemajuan tersebut bukan disebabkan oleh agama tetapi oleh demokrasi dan sekularisme di mana ruang publik dan privat dipisahkan secara tegas. Kelompok nihilistik juga berpendapat kemajuan yang dicapai bangsa Jepang dan Korea misalnya, lebih disebabkan oleh factor Asian values, nilai-nilai budaya bangsa Asia yang menjunjung tinggi etos kerja dan pengorbanan diri.</p>
<p>Kaum pesimistik menganggap, agama kontradiktif dengan gagasan dan praktik pembangunan. Alih-alih sebagai perekat dan pendamai, agama sebaliknya dinilai sebagai pemicu disharmoni antar elemen masyarakat, terutama di kalangan kelompok antar dan intra agama sendiri. Agama juga dinilai bertentangan dengan gagasan dan proyek-proyek kesejahteraan dan pembangunan ekonomi. Negara-negara mayoritas Muslim, sebagian besarnya adalah negara miskin. Bukan hanya miskin dan terbelakang, negara-negara ini juga diperparah oleh praktek korupsi, perang, konflik etnik, dan kekerasan seperti di negara-negara di kawasan Afrika Barat, Afrika Utara, Asia Tengah, Asia Selatan dan juga Indonesia yang angka kemiskinannya masih cukup tinggi. Begitu juga di negara-negara di Amerika Latin, yang pengaruh Katholiknya cukup kental.</p>
<p>Karena itulah kaum pesimistik ini melihat, agama dan pembangunan adalah antitesis yang saling bertentangan satu sama lain. Problem ini bukan berasal dari pandangan atau tafsir atas ajaran agama yang diyakini oleh umatnya, tetapi berasal secara intrinsik dari ajaran agama itu sendiri. Doktrin keagamaan yang bersifat eskatologis-metafisis seperti doktrin jabariyah-predeterministik tentang takdir &#8220;baik-buruk&#8221; dan &#8221; kaya-miskin&#8221;, misalnya telah menjerat kaum beriman dalam kepasrahan atas takdir yang memperlemah etos progresifitas dan partisipasi mereka dalam proses-proses kemajuan dan pembangunan. Selain itu, fundamentalisme keagamaan dalam wujudnya yang beragam, yakni radikalisme politik, ektrimisme keagamaan, hingga terorisme merupakan bukti kuat bahwa agama tidak selaras dengan gagasan-gagasan pembangunan.</p>
<p>Doktrin proselitisme-misionaris pada setiap agama dan diyakini serta dipegang kuat oleh agen-agen fundamentaluisme agama, terutama agama samawi seperti Islam dan Kristen dianggap sumber konflik dan ketegangan baik intra dan antar umat beragama. Pengalaman pahit hubungan Islam dan Kristen dalam Perang Salib, kolonialisme Barat atas Dunia Islam, hingga perang suci melawan terorisme yang disusul invasi Barat terhadap Irak dan perang Afghanistan, diakui secara langsung atau tidak, muncul dari pandangan ekslusif atas suatu ajaran keagamaan tertentu. Istilah-istilah the holy crusade, holy war atau jihad adalah bumbu semantik yang tumbuh dari sikap dan pandangan dualisme manischean tentang « baik-buruk », « surga-neraka », « kafir-iman ». Tentu saja, dalam konteks ini, agama hanya dijadikan bungkus untuk tujuan-tujuan politik dan ekonomi.</p>
<p>Sebaliknya, bagi kaum optimistik, agama justru mendorong umatnya untuk maju dan giat membangun. Negara-negara Eropa Kristen seperti Jerman, Inggris dan Perancis dan–dalam beberapa hal Negara petro dolar Timur Tengah, dinilai berhasil menggiatkan proyek-proyek besar pembangunan dan modernitas. Dalam hal ini, agama sama sekali tidak menghalangi pembangunan masyarakat, tetapi justru mendorongnya. Justru, sebagaimana tesis Max Weber tentang etika protestantisme dan juga temuan Cliford Geetz tentang etika Islam modernis di Mojokuto, agama mendorong umatnya untuk maju dan berkemajuan secara sosial dan ekonomi. Dalam hal ini, agama menjadi elan vital kemajuan. Sebab, jika kita teliti secara lebih mendalam, di dalam teks-teks primer agama terdapat seruan atau ajakan bagi kaum beriman untuk maju dan membangun serta menyejahterakan umat manusia. Dalam konteks Indonesia, Geertz menemukan bahwa para pedagang di Mojokuto adalah pedagang muslim modernis yang progresif dalam dakwah dan berkontribusi bagi pembangunan ekonomi di daerahnya.</p>
<p>Saya sendiri cenderung berpendapat bahwa kausalitas hubungan agama dan pembangunan bersifat positif. Artinya, agama mendorong umatnya untuk maju dan berkemajuan serta giat dalam proses-proses pembangunan dan kesejahteraan rakyat. Secara doktriner, Islam mengajarkan umatnya untuk menggapai dan menjaga keseimbangan dunia dan akherat, yakni mencapai kebahagiaan dunia dan akherat. Di dalam Al-Qur’an, &#8220;wabtaghi fiimaa ataaka allahu daara akhirata wa laa tansaa nashibaka mina al-dunya&#8221; (Dan gapailah kampung akherat pada apa yang Allah telah kurniakan kepadamu, dan janganlah engkau lupakan bagian (nasib) duniamu).</p>
<p>Di dalam doa yang dilantunkan setiap seusai shalat, umat Muslim juga selalu menyisipkan permohonan kepada Tuhan Yang Esa supaya dianugerahi kebahagiaan dunia dan akherat. Doa ini dapat dimaknai sebagai upaya menjadikan kebahagian dunia (kesejahteraan lahir dan batin, sosial, ekonomi dan politik) sebagai &#8220;syariat&#8221; atau jalan menggapai kebahagiaan abadi di akherat kelak. Dalam pengertian terbalik, tidaklah &#8220;le bonheur ultime&#8221;, kebahagiaan nirwani itu dapat dicapai tanpa diawali partisipasi individu Muslim dalam proyek-proyek kesejahteraan dan pembangunan. Inilah, yang saya sebut, sebagai etika sekaligus etos pembangunan Islam.</p>
<p>Etika dan etos Islam ini merupakan spirit kemajuan, yang mendorong umatnya untuk berpartisipasi aktif membangun peradaban dunia. Umat Islam dan penganut agama yang lainnya tidak boleh berpangku tangan, sekedar menjadi penonton hiruk pikuk perubahan dunia yang dahsyat. Sebab, sikap acuh dan cuek terhadap dunia menjadikan dunia kehilangan ruh spiritualitasnya dan kering nilai-nilai transendental. Pembangunan yang kering dari iman akan melahirkan krisis kemanusiaan dan disorientasi keberpihakan pada rakyat miskin, wong cilik. Proyek-proyek yang dilangsungkan hanya berorientasi akumulasi modal dan penyingkiran dan pemiskinan kaum miskin dan mustad&#8217;afin. Radikalisme, terorisme, intoleransi dan patologi sosial lainnya merupakan buah pahit dari pembangunan yang nir-imani ini. Di sinilah, pentingnya partisipasi kaum beriman dalam pembangunan guna pencapaian kesejahteraan dan kebajikan bersama (common virtue).</p>
<p>Dengan kata lain, iman yang benar adalah iman partisipatoris: keimanan yang memadukan tauhid dan amal sholeh. Kaum beriman tidak boleh hanya menganggap ibadah mahdlah seperti shalat, puasa, zakat dan haji sebagai one way to paradise, tetapi juga perlu diintegrasikan pada kesalehan dan kebajikan dalam makna berpartisipasi dan berkontribusi sebagai aktor utama pembangunan dan kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian, orang yang beriman adalah yang tidak saja beribadah di tempat ibadah, tetapi juga tanggap sasmita terhadap lingkungan sekitar, dalam proyek sosial, politik dan ekonomi, dan tekun aktif dalam proses pembangunan. Inilah figur ideal seorang insan kamil, manusia paripurna.</p>
<p>III.</p>
<p>Kemerdekaan Indonesia yang dicapai pada 17 Agustus 1945 tidak bisa dilepaskan dari peran aktif pemimpin dan pemuka agama. Sejak jaman kolonialisme Belanda, agama memainkan peran penting dalam pergerakan dan perlawanan terhadap kaum penjajah di mana surau, gereja, wihara dan tempat ibadah lainnya menjadi basis perlawanan rakyat. Di antara daftar deret pahlawanan nasional, terdapat nama-nama besar pemuka atau pemimpin agama yang berjasa besar bagi kemerdekaan Indonesia, seperti Teuku Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Kiyai Mojo, Teuku Umar, Cut Nyak Dien, Sultan Fatahillah, dan lain sebagainya. Perjuangan kaum agama tidak saja melalui peperangan fisik dan bersenjata, tetapi juga melalui senjata pergerakan dan organisasi massa seperti Muhammadiyah yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan, NU oleh KH. Hasyim Asy’ari. Kedua ormas ini dikenal jauh sebelum Indonesia merdeka berjuang di bidang dakwah, sosial, pendidikan, dan kesehatan. Tak hanya itu, figur ulama sastrawan seperti Dr. Hamka turut berjasa dalam perjuangan melalui sastra dan mimbar-mimbar agama.</p>
<p>Di awal kemerdekaan, tidak sedikit juga tokoh agama (Islam) yang berkontribusi menentukan arah Indonesia seperti KH. Mas Mansyur, Kasman Singodimejo, Ki Bagus Hadikusuma, KH. Agus Salim, dan Mohammad Natsir. Terdapat juga tokoh agama lain seperti AA. Maramis. Mr. Latuharhari dan Dr. J. Leimena. Keterlibatan aktif mereka turut menentukan empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara yakni UUD 1945, Pancasila, Bhineka Tunggal Ika. Empat pilar tersebut tidak akan ada jika tokoh-tokoh Islam tidak memiliki kerelaan dan fatsoen politik yang adiluhung jika mereka tetap bersikukuh untuk menjadikan Piagam Jakarta. Pencoretan tujuh kata, « dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya » merupakan kontribusi tokoh agama Islam bagi pondasi pembangunan Indonesia yang majemuk.</p>
<p>Di era kemerdekaan, agama tetap memiliki peranan vital dalam mengisi kemerdekaan. Islam, Kristen, Katholik, Budha dan Hindu mendirikan lembaga-lembaga pendidikan, kesehatan dan sosial kemasyarakatan, sehingga Pemerintah cukup terbantu dalam melayani kebutuhan masyarakat. Dengan jaringan umat yang cukup luas, dari Ibu Kota hingga pelosok desa, agama seringkali menjadi tumpuan utama pelayanan umat dalam bidang bimbingan rohani, pendidikan, kesehatan, dan kegiatan sosial lainnya. Mereka menerobos masuk wilayah-wilayah yang acap, diakui atau tidak, luput dari perhatian pemerintah. Ketika sekolah-sekolah negeri tidak ada di pelosok pegunungan, sekolah agama atau madrasah dan pesantren telah hadir terlebih dahulu memberikan pencerahan dan pencerdasan masyarakat. Tak jarang, di daerah rawan bencana misalnya, relawan-relawan berbasis agama tampil terlebih dahulu memberikan bantuan kesehatan dan sosial secara langsung dan cepat.</p>
<p>Di sinilah peran agama dalam sinergi pembangunan. Agama tidak saja aktif membantu program-program pemerintah, tetapi juga mengambil inisiatif dalam proses-proses pembangunan nasional. Ketika program pemerintah mengalami hambatan, karena pandangan-pandangan sebagian masyarakat, maka pemerintah bersinergi dengan tokoh agama dan ormas keagamaan untuk memberikan pemahaman dan sosialisasi terhadap masyarakat. Pada masa Orde Baru, Pemerintah misalnya sempat mengalami kesulitan untuk menerapkan program KB « Dua Anak Saja Cukup ». Program ini, di mata sebagian umat Islam, pada awalnya dinilai bertentangan dengan ajaran Islam mengenai pembatasan kelahiran. Berkat pemahaman yang dilakukan pemimpin dan tokoh Islam bahwa KB tidak bertentangan dengan ajaran Islam, maka akhirnya program KB ini tercatat sebagai program penanggulangan ledakan penduduk yang paling sukses di dunia.</p>
<p>IV.</p>
<p>Di era Reformasi ini, Indonesia di warnai konflik antar dan intra agama, kekerasan atas nama agama, intoleransi, radikalisme dan terorisme. Berbagai masalah tersebut memicu kritik keras yang dialamatkan kepada agama dan tokoh agama yang dinilai tidak lagi mempunyai peran vital dalam membimbing umatnya. Kritik ini cukup mengena di saat banyak ormas keagamaan dan tokoh agama di Indonesia seperti kiyai dan pendeta terlibat dalam hiruk pikuk politik dan partai politik, sehingga peran-peran keagamaan dan peran cultural broker yang mereka emban menjadi terbengkalai. Masyarakat dan umat lantas ditinggalkan sendiri begitu saja tanpa personal reference dalam menghadapi kehidupan yang semakin sulit.</p>
<p>Peran kiyai dan pendeta tradisional yang biasanya berbasis surau/pesantren dan gereja akhirnya diganti oleh para petualang agama yang memanfaatkan krisis multidimensional untuk tujuan-tujuan politik keagamaan yang fundamentalistik. Ideologi teologico-politik inilah yang belakangan ini rajin memanfaatkan dunia Indonesia yang tunggang langgang untuk syahwat ideologi dan politik mereka dan mengasongkannya pada tunas-tunas muda yang tengah galau dan dangkal rasio. Inilah fundamentalisme keagamaan yang sekarang menjangkiti umat melalui surau masjid, gereja dan tempat ibadah lainnya. Tentu kita tidak ingin, tempat-tempat ibadah yang seharusnya menjadi wahana penyemaian kader-kader beragama yang progresif dikuptasi oleh kelompok-kelompok fundamentalisme keagamaan yang mengutamakan simbol dan perjuangan sektarian dan mengabaikan penghayatan luhur agama yang mencerahkan dan memanusiakan manusia.</p>
<p>Jika kondisi umat dibiarkan jatuh pada corak keagamaan yang sempit, maka dalam beberapa tahun mendatang, corak agama manusia Indonesia yang dikenal ramah dan rahmah akan berubah menjadi penuh amarah. Tentu saja, fundamentalisme keagamaan itu tumbuh dan jumbuh di masyarakat yang galau dan mengalami krisis hidup yang luar biasa. Sedangkan pada saat yang sama, peran-peran keagamaan bersifat konvensional dan tidak mampu lagi menjawab tantangan dan persoalan yang dihadapai umat. Pada titik inilah, paham fundamentalisme mendapat tanggapan positif, karena menawarkan solusi-solusi yang bersifat menentramkan, solidaritas dan kepedulian. Meski tentu saja semu dan sekedar menawarkan « janji-janji surgawi ». Di tengah krisis ekonomi misalnya, para pengkhotbah fundamentalisme menyalahkan sistem negara Pancasila yang tidak ilahiyah. Pancasila inilah yang dinilai menjadi sumber bencana yang dihadapi bangsa Indonesia.</p>
<p>Oleh karena itu, yang diperlukan saat ini adalah reaktualisasi peran keagamaan, yang dilakukan bukan saja terfokus pada mainstreaming paham-paham moderat dalam beragama, tetapi juga bagaimana agama itu dapat berperan dan berkontribusi positif bagi pembentukan insan kamil Indonesia yang soleh sekaligus kader bangsa Indonesia yang mempunyai kepedulian partisipatoris terhadap persoalan politik, sosial dan budaya serta memiliki kemandirian ekonomi yang kokoh. Agama di Indonesia diharapkan tidak hanya berperan dalam bidang-bidang yang selama ini telah digarap seperti pendidikan, kesehatan, dan amal sosial lainnya, tetapi diperluas pada kaderisasi politik dan ekonomi Indonesia. Dengan kata lain, agama perlu melakukan gerakan pemberdayaan dan pencerahan masyarakat yang bisa dimulai dan berbasis pada reaktualisasi tiga ranah ; surau (tempat ibadah), balai desa (institusi sosial dan politik), serta pasar tradisional.</p>
<p>Masjid, seperti Gereja, Wihara dan tempat ibadah lainnya, adalah sumber inspirasi spiitual sekaligus media transformasi individu menuju kebajikan bersama. Tempat-tempat ibadah perlu dikembalikan pada kedua fungsi tersebut, sehingga terbangun buah spiritualitas yang mencerahkan dan menggerakkan kemajuan dan kebajikan bersama. Tempat ibadah seyogyanya terbebas dari paham-paham kegelapan yang mengerdilkan dan mengucilkan jatidiri kemanusiaan hakiki. Pemahaman keagamaan yang moderat dan sesuai dengan karakter bangsa Indonesia yang ramah seharusnya menjadi paham yang disebarkan dan didakwahkan kepada umat. Dalam hal ini, perlu kaderisasi dai dan para pengkhotbah agama yang memahami agama tidak hanya sebagai kekuatan moral-spiritual tetapi juga mendorong umatnya untuk hidup secara sangkil dalam koridor falsafah Indonesia yang berbhineka tunggal ika.</p>
<p>Tentu kita tidak layak menaksir lebih tempat ibadah sebagai satu-satunya pemilik fungsi strategis perubahan masyarakat. Ada lapak lain yang tak kalah kapitalnya bagi sebuah perubahan sosial, politik dan ekonomi umat yakni a.l. Balai Desa dan Pasar Rakyat. Balai Desa merupakan tempat berkumpul semua warga, forum sosialisasi sekaligus aktualisasi diri antar warga berdasarkan semangat saling menghargai dan nilai-nilai kegotong royongan. Balai Desa musti dibebaskan dari kuptasi politik golongan, sehingga tercipta masyarakat sadar sosial, politik, sekaligus budaya yang menggerakkan mereka pada kemajuan dan kesejahteraan bersama. Sebagai penggerak ekonomi rakyat, pasar menjadi tempat satu-satunya transaksi ekonomi yang bebas dari syahwat mencari untung sendiri sambil mencekik orang lain, merdeka dari libido kapitalistik yang menghisap habis sumber dan laba ekonomi rakyat. Di tempat inilah, transaksi ekonomi mutualisme atas dasar suka sama suka dan prinsip saling tolong menolong seharusnya dapat berlangsung secara bebas dan adil.</p>
<p>Masjid, Balai Desa, dan Pasar Rakyat adalah simbol etika-moral-spiritual, politik gotong royong, dan ekonomi pro rakyat yang kini secara berurutan didominasi oleh fundamentalisme dan radikalisme, politik golongan, dan kapitalisme-neoliberal. Ketiga lapak strategis perlu disinergikan satu sama lain dan segera dimerdekakan dari paham obskurantisme keagamaan, kuptasi politik klientelis dan racun kapitalistik yang mematikan. Dalam kaitan itulah, kita semua dapat menjadi pelopor reaktualisasi peran ketiga ranah tersebut secara terpadu melalui program-program yang mencerahkan dan juga memberdayakan secara agama, politik, dan juga ekonomi. Upaya ini diharapkan dapat mendorong agama dan umatnya memiliki kepribadian yang tangguh secara moral spiritual, menjadi individu partisipatoris yang melek politik dan sudi untuk melibatkan diri dalam persoalan kebangsaan dan pembangunan politik dan ekonomi. Mudah-mudahan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nubowo.web.id/menjadi-manusia-paripurna/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bersama Menghalau Radikalisme</title>
		<link>http://nubowo.web.id/bersama-menghalau-radikalisme</link>
		<comments>http://nubowo.web.id/bersama-menghalau-radikalisme#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Mar 2012 05:55:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nubowo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Maqala]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nubowo.web.id/?p=453</guid>
		<description><![CDATA[Harian Kompas (31/12)2011) menurunkan tulisan Hasibullah Sastrawi berjudul ‘Radikalisasi Tunas Muda’ yang menyoroti fenomena radikalisasi siswa sekolah menengah atas. Sastrawi mencatat radikalisasi tunas muda ini disebabkan pengaruh gerakan puritanisme dan radikalisme Islam di Indonesia yang mengobarkan semangat ‘kembali ke al-Qur’an dan Sunnah’ dan yel-yel ‘Allahu Akbar’. Karena tanpa dukungan data akurat, tulisan ini bisa dipahami dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="left"><strong></strong><a href="http://nubowo.web.id/wp-content/uploads/2012/03/peace.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-455" title="peace" src="http://nubowo.web.id/wp-content/uploads/2012/03/peace-300x225.jpg" alt="peace 300x225 Bersama Menghalau Radikalisme" width="300" height="225" /></a>Harian Kompas (31/12)2011) menurunkan tulisan Hasibullah Sastrawi berjudul ‘<em>Radikalisasi Tunas Muda’</em> yang menyoroti fenomena radikalisasi siswa sekolah menengah atas. Sastrawi mencatat radikalisasi tunas muda ini disebabkan pengaruh gerakan puritanisme dan radikalisme Islam di Indonesia yang mengobarkan semangat ‘kembali ke al-Qur’an dan Sunnah’ dan yel-yel ‘Allahu Akbar’.</p>
<p align="left">Karena tanpa dukungan data akurat, tulisan ini bisa dipahami dalam dua cara sekaligus : radikalisasi sebagai ‘gejala biasa’ atau—sebaliknya, fenomena ‘puncak gunung es’. Sekalipun demikian, tulisan ini membuka mata kita bahwa radikalisme terus menyebarkan racun ideologinya di kalangan anak muda. Pelaku Tragedi Bom Kuningan II, Dani Dwi Permana (17 th) yang <em>broken home</em> dan baru lulus SMA, menguatkan ‘peringatan dini’ Sastrawi tersebut.</p>
<p align="left">Namun, pengaitan spirit puritanisme Islam dengan radikalisme tak lebih dari simplifikasi dan kemalasan berpikir. <em>Pertama,</em> Sastrawi luput membaca kompleksitas problem radikalisme sebagai akibat dari krisis ekonomi, politik, sosial dan budaya, tetapi sebatas problem ideologi dan paham keagamaan. <em>Kedua</em>, Sastrawi terjebak pada penyamarataan gerakan puritanisme dan radikalisme Islam di Indonesia.</p>
<p align="left">Alih-alih mengobati, diagnosa ini justeru makin menjauhkan upaya penyelamatan tunas muda dari ideologi <em>fou de Dieu</em> –ketololan atas nama Tuhan.</p>
<p align="left"><strong>‘Dunia Tunggang Langgang’</strong></p>
<p align="left">Bagi sebagian masyarakat, modernitas dan globalisasi merupakan sebuah peluang dan ruang ekspresi baru. Tetapi bagi kelompok sosial lainnya, keduanya dianggap memproduksi ‘dunia tunggang langgang’ yang ditandai oleh ketidakadilan, keterasingan  dan dekadensi. Internet, TV, dan turisme massal, misalnya, kerap dituduh sebagai biang tragedi moral dan spiritual generasi muda.</p>
<p align="left">Dihadapkan pada patologi modernitas ini, sebagian generasi muda eksodus pada hedonisme dan permisifisme. Sebagian lainnya menemukan ‘teranova’ yang menjanjikan kedamaian dan solidaritas. Pada titik inilah, gerakan neofundamentalisme (baik yang radikal-politis maupun apolitis) memukau anak muda Indonesia yang tengah galau dan resah. Di dalam khutbah dan tausyiah para pengasong ideologi obskurantis ini, anak muda menemukan keberanian untuk menghadapi ketidakadilan yang dialami.</p>
<p align="left">Olivier Roy (2002) menyebut mereka sebagai <em>reborn again generation</em>, yakni generasi muda yang ‘terlahirkan’ kembali dalam ‘islam’. Sayangnya, mereka lalu mengalami radikalisasi di tangan para pengasong ideologi radikal. Mereka ‘lari’ pada radikalisme karena dikecewakan modernitas dan budaya sekular tempat mereka dilahirkan, dididik dan dibesarkan.</p>
<p align="left">Temuan survei Setara Institut pada Juni 2008 cukup menjadi perhatian. Tercatat 23% responden beranggapan Indonesia adalah negeri yang kaya sumber daya alam, tetapi 12% menganggap sebagai negeri yang penuh ketidakadilan, KKN (8%), penuh gejolak (2%) dan penindasan (1%). Selain itu, sejumlah 73,6% anak muda menilai Indonesia telah tunduk pada dominasi asing  di bidang ekonomi, teknologi, budaya, dan politik. Ketidakmampuan negara vis-à-vis krisis multidimensi di dalam negeri dan dominasi asing memicu eksodus sebagian generasi muda Islam menuju cita-cita ‘negara Islam’ atau ‘khilafah Islamiyah’.</p>
<p align="left">Ideologi teologico-politik inilah yang belakangan ini rajin memanfaatkan dunia Indonesia yang tunggang langgang untuk syahwat ideologi dan politik mereka dan mengasongkannya pada tunas-tunas muda yang tengah galau dan dangkal rasio. Kelompok minoritas radikal yang tegas-tegas mengingkari eksistensi 4 pilar bangsa (UUD 45, Pancasila, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika) tentu berbeda dengan spirit puritanisme Islam yang diusung oleh Muhammadiyah, Al-Irsyad, dan Persatuan Islam (Persis).</p>
<p align="left">Secara teologis, puritanisme Islam itu sendiri bersumbu pada upaya pemurnian ajaran  Islam  dari kebodohan, keterbelakangan, kejumudan dan taklid buta. Semangat ‘<em>al-ruju’ ila al-Qur’an wa al-sunnah’, </em>justeru mengindikasikan semangat untuk mendalami kedua teks primer Islam tersebut secara serius dengan menguasai epistemologi dan metodologinya dan memahaminya  secara kritis, ekletik, filosofis, dan kontekstual, bukan semata-mata sikap literalisme-skripturalistik.</p>
<p align="left">Sikap terakhir inilah yang membedakan gerakan puritanisme Islam yang diusung Muhammadiyah, Al-Irsyad, dan Persis misalnya dari neofundamentalisme-radikal dan konservatisme Islam. Kedua kelompok terakhir masing-masing cenderung tunduk pada literalisme.</p>
<p align="left">Selain itu, berbeda dengan gerakan radikal yang mengusung cita-cita politik (negara/syariat Islam, khilafat Islam), gerakan puritanisme  Islam Indonesia adalah gerakan kesalehan yang non politis. Jika puritanisme dianggap merusak NKRI, tentu saja gerakan puritan Islam tersebut tidak akan bertahan hingga sekarang ini.</p>
<p align="left"><strong>Bahu Membahu</strong></p>
<p align="left">Untuk itu, menghalau radikalisasi tunas muda, perlu diagnosa yang tepat. Menyamaratakan radikalisme dengan gerakan puritanisme Islam Indonesia bukan saja bermasalah secara epistemologis, tetapi juga merenggangkan upaya bersama penanganan sindroma tersebut. Dewasa ini, radikalisme merupakan ancaman bersama. Untuk itu, perlu aksi bahu membahu di antara ormas Islam moderat Indonesia melalui advokasi dan penanaman paham keagamaan dan pendidikan karakter yang terbuka, dialogis, dan toleran.</p>
<p align="left">Bukan hanya pada level teologis dan pemahaman saja, negara juga dituntut untuk segera mengamputasi krisis dan ketidakadilan ekonomi, politik, sosial, dan residu modernitas yang bersifat patologis. Ketidakhadiran negara pada generasi muda yang terasing, galau, resah, mengalami diskriminasi, dan menemukan masa depan yang suram diyakini sebagai salah satu penyebab aksi radikalisme, kekerasan, terorisme, dan bom bunuh diri.</p>
<p align="left">Akhir kata, kesigapan dan ketegasan negara pada gerakan radikalisme, di satu sisi, dan kelembutan para dai dan muballigh yang simpatik, santun, dan peduli pada persoalan anak muda, di sisi lain, akan menyelamatkan mereka dari kelompok yang mengaku satu-satunya ‘juru kunci’ surga.  Semoga.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nubowo.web.id/bersama-menghalau-radikalisme/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jiwa Sehat di Tubuh Sehat</title>
		<link>http://nubowo.web.id/jiwa-sehat-di-tubuh-sehat</link>
		<comments>http://nubowo.web.id/jiwa-sehat-di-tubuh-sehat#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Jun 2011 22:41:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nubowo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Maqala]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nubowo.web.id/?p=378</guid>
		<description><![CDATA[Pada suatu hari datang seorang kafir kepada Rasulullah. Ia berkata, &#8221;Wahai Muhammad, jika kamu betul-betul utusan Allah lawanlah aku dalam pertandingan gulat. Jika kamu berhasil mengalahkanku, maka aku akan mempercayaimu dan memeluk agama Islam?&#8221; Nabi pun meluluskan tantangan itu. Singkat kata, keduanya lalu bergulat. Si kafir dan Nabi Muhammad Saw sama-sama mengerahkan segala kekuatan fisiknya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong></strong>Pada suatu hari datang seorang kafir kepada Rasulullah. Ia berkata, &#8221;Wahai Muhammad, jika kamu betul-betul utusan Allah lawanlah aku dalam pertandingan gulat. Jika kamu berhasil mengalahkanku, maka aku akan mempercayaimu dan memeluk agama Islam?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Nabi pun meluluskan tantangan itu. Singkat kata, keduanya lalu bergulat. Si kafir dan Nabi Muhammad Saw sama-sama mengerahkan segala kekuatan fisiknya untuk memenangkan pertandingan gulat itu. Dengan pertolongan Allah, Nabi keluar sebagai juara, dan si kafir kemudian menepati janjinya memeluk Islam.</p>
<p style="text-align: justify;">Dituturkan juga bahwa pada suatu pertempuran dahsyat antara kaum Muslimin dan kafir musyrik, Ali bin Abi Thalib terlibat adu fisik menggunakan sebilah pedang dengan salah seorang kafir. Denting suara pedang beradu, kelebatan tubuh Ali dan si kafir ikut mewarnai pertempuran dahsyat itu. Akhirnya pertempuran itu dimenangkan Ali, meski ia tak sampai membunuhnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dua kisah di atas mengajarkan kita betapa kekuatan fisik adalah alat dakwah. Mustahil Nabi Muhammad mampu menaklukkan lawannya dalam pertandingan gulat, manakala Rasulullah tidak pernah menjaga kebugaran tubuh dan fisiknya, tentunya, di samping pertolongan dan kekuatan Allah SWT.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam salah satu riwayat terkenal, Nabi pernah bersabda bahwa Allah lebih menyukai orang beriman yang kuat daripada yang lemah. Maka dalam hidupnya, olahraga fisik yang menjadi hobi beliau adalah memanah dan menunggang kuda. Begitu juga halnya dengan Ali. Di samping sebagai sahabat Nabi yang saleh, cerdas, dan tawadhu, Ali pun sangat terampil dalam memainkan pedang.</p>
<p style="text-align: justify;">Memperhatikan kebugaran dan kekuatan fisik adalah tuntutan bagi kita. Dengan tubuh bugar, kuat, dan sehat, dakwah yang kita lakukan akan menjadi mudah. Jihad yang kita lakukan pun akan menuai kemenangan. Ibadah yang kita tunaikan akan menjadi lancar dan bertambah khusuk. Bayangkan jika badan kita lemah, loyo, dan sakit-sakitan, dapatkah kita menunaikan shalat dengan khusuk, berhaji tanpa hambatan, berjihad menuai kemenangan?</p>
<p style="text-align: justify;">Tuntutan memperhatikan kebugaran fisik tidak lantas mendorong kita untuk mengikuti senam-senam aerobik, poco-poco, berenang, dan jenis olahraga lainnya yang pelaksanaannya seringkali mengabaikan prinsip-prinsip syariat.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebab, neraca aktiva kekuatan seorang mukmin bukanlah hanya terletak pada kemampuan fisik semata, tapi juga pada kekuatan &#8216;dalam&#8217; dan kebersihan hati dari kotoran-kotoran duniawi yang bertentangan dengan syariat. Banyak cara yang lebih sehat untuk memperoleh fisik yang sehat sekaligus mata batin yang bersih, lagi kuat. Dan semoga, akan lahir orang-orang mukmin sekuat dan seteguh Nabi Muhammad, Ali, dan para sahabat lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Republika</em>, 19 Juli 2003</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nubowo.web.id/jiwa-sehat-di-tubuh-sehat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ramadan in Paris</title>
		<link>http://nubowo.web.id/371</link>
		<comments>http://nubowo.web.id/371#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Jun 2011 22:08:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nubowo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Harmoni]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nubowo.web.id/?p=371</guid>
		<description><![CDATA[Pendant le ramadan, les Indonésiens de Paris se retrouvent entre eux afin de célébrer le mois sacré comme au pays. Chaque samedi, le temps d&#8217;une soirée, ils transforment l&#8217;ambassade d&#8217;Indonésie en France en une seconde maison. En Indonésie comme dans tout autre pays musulman, le ramadan est un temps traditionnellement consacré à la méditation, mais [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Pendant le ramadan, les Indonésiens de Paris se retrouvent entre eux afin de célébrer le mois sacré comme au pays. Chaque samedi, le temps d&#8217;une soirée, ils transforment l&#8217;ambassade d&#8217;Indonésie en France en une seconde maison.</p>
<p style="text-align: justify;">En Indonésie comme dans tout autre pays musulman, le ramadan est un temps traditionnellement consacré à la méditation, mais aussi à la la vie de famille. À cette occasion, les quelque 2000 Indonésiens vivant en France, pour qui l’arrivée du mois sacré est aussi synonyme de mal du pays, ont pris l&#8217;habitude de se regrouper afin de retrouver un peu de l&#8217;atmosphère qui prévaut à cette occasion dans leur pays d&#8217;origine.</p>
<p style="text-align: justify;">À Paris, les expatriés ont pris l&#8217;habitude de se rassembler tous les samedis dans leur ambassade, jusqu&#8217;à la fête de l’Aïd. &#8220;Nous souhaitons que l’ambassade soit comme une maison pour les Indonésiens&#8221;, déclare Kusuma Habir, l&#8217;attachée culturelle.</p>
<p style="text-align: justify;">Les réunions du samedi peuvent réunir jusqu’à 300 expatriés, ainsi que quelques non-Indonésiens. Ces soirées sont rythmées par divers évènements, gratuits et ouverts à tous.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>La classe</strong></p>
<p style="text-align: justify;">La &#8220;pesantren kilat&#8221;, qui signifie “ cours rapide”, est organisée pour les enfants et les adolescents mais, souvent, des adultes y assistent également. Pour Amalia, 16 ans, née à Paris, il s&#8217;agit de l’une des rares occasions d’en apprendre davantage sur l’Islam. &#8220;Au début, il s&#8217;agit sans doute plus d&#8217;une préoccupation de nos parents, mais les enfants aussi se montrent très intéressés par les cours de religion, bien qu&#8217;ils soient loin de leur pays&#8221;, explique Andar, l&#8217;employé de l&#8217;ambassade qui joue le rôle d&#8217;enseignant. &#8220;<em>&#8216;</em>Alhamdulillah&#8217; [Dieu soit loué, ndlr],<strong> </strong>leur curiosité est même plus grande que celle des étudiants d’Indonésie”, ajoute-t-il.</p>
<blockquote><p><strong>« L’Islam est une religion de paix »</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Andar Nubowo, professeur de l’ambassade</strong></p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">Au coucher du soleil, tous les Indonésiens présents à l&#8217;ambassade se rassemblent pour rompre le jeûne. Cakes et puddings arrosés de lait de coco sucré garnissent les tables et tombent bientôt dans des bouches ravies. Le dîner est généralement préparé par des membres de la communauté et les épouses des employés de l’ambassade.</p>
<p style="text-align: justify;">Cette fois-ci, des monticules de riz côtoient du poulet au curry. “Je ne manque jamais un dîner de ramadan ici. Je viens pour la cuisine, mais également pour l’ambiance&#8221;, confie Bimo, qui étudie le violon et regrette qu’il n’y ait pas de meilleures écoles de musique plus près de chez lui. &#8220;Ces repas soulagent la faim, mais aussi du mal du pays&#8221;, explique-t-il.</p>
<p style="text-align: justify;">Gavés de sucreries et de curry, les petits enfants parviennent à tromper la surveillance de leurs parents et se mettent à courir dans toutes les sens, tandis que les adultes se rassemblent dans la cour de l’ambassade pour prier ensemble.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Je prie mieux quand je suis avec l’imam et tous les autres, confie un jeune Indonésien, salarié d’une compagnie française d’énergie, qui effectue son 11e ramadan à Paris. En plus ici, on ne risque pas de manquer la prière, ce qui peut arriver quand on est tout seul&#8221;, ajoute-t-il.</p>
<p style="text-align: justify;">Andar rappelle, quant à lui, que le ramadan “est un mois de bénédiction, plein de bonheur”. Ses élèves n’ont aucune raison d’en douter. Alors que la soirée touche à sa fin, ces Indonésiens qui, après avoir parcouru des milliers de kilomètres, rêvent chaque jour des 18 000 îles de leur pays, se sont remplis le ventre et le cœur dans le plus beaux des endroits : chez eux.</p>
<p style="text-align: justify;">Source:</p>
<p style="text-align: justify;">http://www.france24.com/fr/20090916-ramadan-indonesiens-paris-ambassade-france-priere#</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nubowo.web.id/371/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Prioritaskan Jihad Bidang Pendidikan</title>
		<link>http://nubowo.web.id/prioritaskan-jihad-bidang-pendidikan</link>
		<comments>http://nubowo.web.id/prioritaskan-jihad-bidang-pendidikan#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Jun 2011 11:59:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nubowo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Maqala]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nubowo.web.id/?p=359</guid>
		<description><![CDATA[Kemajuan peradaban kaum Muslim tidak bisa dilepaskan dari spirit Islam. Ketika Islam dikerangkeng dalam dogmatisme sempit, radikalisme, dan fundamentalisme, peradaban Islam meredup. Jika umat Islam mau bangkit, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah membebaskan mindset dan perspektif kita tentang Islam dari belenggu-belenggu itu. Langkah-langkah apa yang harus dilakukan oleh kaum Muslim dan jihad di bidang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong> </strong>Kemajuan peradaban kaum Muslim tidak bisa dilepaskan dari spirit Islam. Ketika Islam dikerangkeng dalam dogmatisme sempit, radikalisme, dan fundamentalisme, peradaban Islam meredup. Jika umat Islam mau bangkit, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah membebaskan mindset dan perspektif kita tentang Islam dari belenggu-belenggu itu. Langkah-langkah apa yang harus dilakukan oleh kaum Muslim dan jihad di bidang apa yang harus menjadi prioritas? Berikut perbincangan Reporter CMM dengan Andar Nubowo, Kandidat Phd dari <em>Centre de Recherches Politiques Raymond Aron</em> (CRPRA) <em>Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales</em> (EHESS) Paris, France dan Ketua PCIM Muhammadiyah Perancis:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Salah satu problem umat Islam saat ini adalah ketertinggalan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Menurut Bapak, kenapa ini terjadi? </em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Begini, yang tertinggal itu siapa, negara-negara muslim atau umat Islam ? Kita harus bedakan dua aspek itu. Saya kok melihat umat Islam, termasuk muslim Indonesia, sudah maju-maju dalam soal penguasaan pengetahuan dan teknologi. Dalam bidang ilmu-ilmu sosial-humaniora, tahun 2008 lalu, Majalah <em>Foreign Policy/Prospect</em> menempatkan 10 besar ilmuwan berpengaruh di dunia adalah muslim. Ada Fethullan Gulen, Muhammad Yunus, Yusuf Qardhawi, Tariq Ramadhan, Shiren Ebadi. Baru di urutan 11 dan seterusnya Noam Chomsky dan lain-lain. Mereka ini ilmuwan-ilmuwan tangguh dibidangnya yang diakui secara internasional. Dari Indonesia, Anies Baswedan, masuk dalam 100 top intelektual dunia. Dalam domain sains, umat Islam juga menunjukkan prestasi yang luar biasa. Tak kalah dengan bangsa-bangsa maju. Di Indonesia, kita punya UGM, ITB, IPB, UI, UIN yang setiap tahun mencetak sarjana-sarjana sains yang cukup handal. Prestasi mahasiswa muslim kita di luar negeri juga menunjukkan prestasi yang mengagumkan. Tak kalah dengan kawan-kawannya yang non-muslim dari negara-negara maju. Mereka menulis di jurnal-jurnal internasional. Banyak di antaranya yang kemudian ditawari untuk bekerja atau mengajar di kampus luar negeri. Belum lagi jumlah doktor dan profesor muslim yang kita miliki. Jadi, secara individual, SDM umat Islam itu sama sekali tidak ketinggalan. Nah, problemnya saat ini hampir tidak ada negara muslim yang menjadi kampium IPTEK. Ini lebih disebabkan oleh  buruknya kebijakan politik pendidikan dan manajemen SDM di negara-negara muslim, termasuk Indonesia. Politik pendidikan kita, misalnya, masih berkutat pada persoalan-persoalan dasar seperti bagaimana bangsa Indonesia itu terbebas dari buta huruf, bisa bekerja dengan baik, dan hidup dengan layak. Tetapi belum diarahkan pada mentalitas atau spirit untuk memajukan peradaban Indonesia lewat IPTEK. Hal ini diperparah dengan manajemen SDM yang buruk, sehingga saudara-saudara kita yang berprestasi dalam IPTEK beramai-ramai eksodus ke luar negeri. Kasus PT DI menjadi contoh terbaik. Dengan kata lain, negara-negara muslim masih sangat buruk penghargaannya pada kemajuan IPTEK.</p>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>Bagaimana pengamatan Bapak terhadap lembaga-lembaga pendidikan Islam saat ini?</strong></em></p>
<p style="text-align: justify;">Kita lagi bicara lembaga pendidikan Islam di Indonesia kan ? Wah, ini menarik. Menurut saya, lembaga-lembaga pendidikan Islam di Indonesia perlu mengembangkan pendidikan kritis, yakni mengajak peserta didik untuk « memahami », bukan « mengetahui ». Esensi pendidikan sebenarnya adalah mengajak siswa untuk berpikir bebas, substantif, imajinasi, visioner, kreatif dan inovasif. Hal ini hanya bisa tercapai melalui metode pendidikan yang membebaskan nalar tumbuh secara kritis dan terbuka. Selama ini, setahu saya, pendidikan di sekolah-sekolah Islam (dan juga sekolah umum lainnya)  identik dengan menghafal untuk sekedar bisa menjawab soal saat ujian dan mendapatkan nilai yang baik. Misalnya, saat belajar matematika, siswa disuruh menghafal rumus, bukan memahami proses pembentukan rumus. 2+1=3, bukan mengapa 2+1=3. Dalam pelajaran sastra, ini sungguh tragis, siswa malah disuruh menghafal puisi « Aku » karya Chairil Anwar, bukan disuruh menggubah puisi. Akibatnya, sekolah turut menciptakan cara berpikir instan, dan memproduksi mentalitas yang gandrung pada sesuatu yang bersifat lahiriah, simbolik, dan materialistik.<em> Emang gue pikirin, yang penting gue bisa lulus. </em>Jadi, budaya-budaya buruk yang melekat pada bangsa kita secara keseluruhan, sejatinya, tanpa disadari, sudah tersemaikan lewat dunia pendidikan kita</p>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>Apa yang harus dilakukan untuk mengangkat mutu lembaga pendidikan Islam? </strong></em></p>
<p style="text-align: justify;">Menurut saya, lembaga pendidikan Islam perlu mengenalkan filsafat dan seni. Filsafat, sebagai sebuah metode berpikir, dapat mengarahkan peserta didik untuk bisa « memahami » ilmu pengetahuan dan fenomena sosial dan alam di sekitarnya dengan baik. Filsafat sebagai cara berpikir, bukan pelajaran Filsafat itu sendiri. Ini perlu dicatat. Di Perancis, sejak TK, anak-anak sudah diarahkan untuk berpikir kritis, abstrak dan konseptual. Misalnya, anak TK disuruh untuk mendefinisikan meja. Apa itu meja ? Mengapa meja berbentuk segi empat ? Apakah meja selalu berbentuk segi empat ? Mereka, anak-anak TK itu dilatih berpikir secara konseptual untuk memahami suatu benda atau fenomena. Baru di tingkat SMA, pelajaran Filsafat dikenalkan. Peserta didik juga perlu diajarkan seni. Seni dapat memperhalus budi pekerti. Seni juga dapat mengantarkan peserta didik pada sikap mencintai dan menghargai kemanusiaan. Jadi, saya terus terang, tidak terlalu suka dengan sekolah-sekolah Islam unggulan yang sekarang menjamur di Indonesia. Sekolah-sekolah itu mementingkan kognisi (IQ), sedang afeksinya (emosi) dimarjinalkan. Sekolah jenis ini seringkali malah mengebiri fase perkembangan anak. Anak SD yang seharusnya akrab dengan dunia anak-anak, sudah dijejali soal-soal kognitif yang tak sesuai dengen perkembangan jiwa dan emosi mereka. Banyak jebolan sekolah unggulan yang di jenjang sekolah berikutnya gagal secara akademik dan mental. Layu sebelum berkembang.</p>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>Sebagian lembaga pendidikan Islam dicurigai mengajarkan jihad dalam arti perang (kekerasan fisik), mengapa ada penilaian seperti ini? </strong></em></p>
<p style="text-align: justify;">Ini cukup memprihatinkan. Pendidikan agama di lembaga Islam masih menggunakan indoktrinasi yang didasarkan pada penafsiran kaku terhadap ajaran Islam. Maka, orang tua kadang bingung pada perubahan diri si anak yang tidak mau berteman lagi dengan kawannya yang non-muslim, atau bahkan pada kawan yang tidak sealiran dengan lembaga pendidikan di mana dia sekolah. Pendidikan seperti ini, saya kira, gagal dalam menanamkan nilai-nilai luhur Islam yang damai. Sebaliknya, ia berhasil menanamkan ekskusivisme dan truth claim yang menjadi « bom  waktu» di kemudian hari. Hal ini bukan hanya soal mindset, tetapi soal pendekatan pendidikan juga. Seperti yang saya ungkapkan di muka, pendidikan di sekolah Islam perlu mengintroduksi cara berpikir kritis dan berkesenian. Jika, dua hal ini dikembangkan di lembaga Islam, maka ajaran jihad tidak akan dipahami dalam satu pengertian saja, yakni « berperang, bertempur melawan musuh », tetapi lebih dari itu jihad dapat dipahami dalam konteks kemanusiaan yang lebih luas, misalnya « belajar giat », « berjuang menegakkan keadilan », « bergiat dalam meraih kemajuan ».  Intinya, jihad demi kemakmuran dan kemaslahatan seluruh umat manusia. Inilah pengertian sesungguhnya, bagi saya, dari adagium « Islam rahmatan lil’alamin ».</p>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>Aksi-aksi kekerasan yang terjadi di negara-negara yang mayoritas penduduknya muslim, menyebabkan banyak kalangan, khususnya Barat mengindentikan Islam dengan kekerasan, mengapa terjadi demikian?</strong></em></p>
<p style="text-align: justify;">Penilaian itu tidak terlepas dari perilaku umat Islam sendiri. Kita ini tersinggung kalau dibilang Islam agama kekerasan, tetapi tanpa kita sadari, kita sendiri memproduksi kekerasan. Saya kira, hanya sekian persen saja umat Islam yang radikal, kaku, dan keras. Tapi, yang sedikit itu merusak keramahtamahan Islam dan citra mayoritas umat Islam yang ramah, bukan marah. Terorisme Al-Qaeda, Taliban di Afghanistan, dan perilaku buruk mereka pada perempuan menjadi dalih munculnya islamophobia di Barat. Tapi, saya melihat sebagian  kelompok di Barat  mengidap miyopisme, kaca mata kuda, dalam melihat Islam dan fenomena umatnya. Mereka lebih tertarik melihat Islam di Timur Tengah dan Asia Tengah yang kaku, rigid, dan keras daripada misalnya Islam di Asia Tenggara. Mereka hanya melihat satu bentuk fenomena Islam, yakni Islam radikal, dan Islam yang hidup di kawasan gurun. Mereka tak mau tahu dengan jenis Islam ramah yang berkembang di Indonesia misalnya. Meski perkembangan terakhir menunjukkan bahwa arabisasi Islam di Indonesia semakin menguat. Hal ini yang perlu diwaspadai, sebab islam jenis ini mencampuradukkan budaya Arab dengan ajaran Islam yang hakiki. Jika kita acuh, jenis Islam Indonesia yang ramah, moderat dan toleran akan dilibas oleh kekuatan Islam yang kaku dan keras, yakni Islam impor. Jika sudah demikian, citra keramahtamahan Islam punahlah sudah.</p>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>Apa yang harus kita lakukan untuk menghadapai invasi peradaban Barat?</strong></em></p>
<p style="text-align: justify;">Kita harus terbuka dengan kemajuan Barat, tetapi kritis terhadap budaya yang tak cocok. Kita harus tolak westoksisasi (pembaratan) dan menerima westernisasi (menerima yang baik dan cocok dari peradaban Barat). Kita mesti belajar dari peradaban Barat dengan kepala dingin dan tangan terbuka. Tetapi, harus secara jentel membuang racun-racun Barat yang tidak sesuai dengan budaya kita. Dulu, pelajar-pelajar Barat (Eropa) pada Abad Pertengahan tanpa malu berguru pada ulama-ulama muslim, seperti Ibn Rusyd, Ibn Sina, Ibn Bajjah dll. Mereka tetap memelihara identitas mereka, dan kemudian mengembangkannya di negaranya sendiri. Maka, tidak heran, jika kebangkitan Barat sebenarnya dipengaruhi oleh para ulama dan filosof-filsosof muslim. Kita ini terlalu curiga dengan Barat. Semua yang datang dari Barat haram. Demokrasi haram. Pers bebas tidak boleh. Pada saat yang sama, kita terlalu ringkih untuk mengimitasi produk-prosuk budaya Barat. Dua kutub ekstrim dalam menyikapi Barat inilah yang perlu dikoreksi. Sebab, keduanya justru tidak menguntungkan. Sikap yang menurut saya tepat adalah, kita ambil «api» Barat, dan kita buang « abunya ».</p>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>Bukankah nilai-nilai etik (menjunjung tinggi hukum, disiplin, dan jujur)  merupakan wajah Islam yang sebenarnya?</strong></em></p>
<p style="text-align: justify;">Betul. Tidak diragukan lagi. Quran mengajarkan kita untuk membaca «<em> ‘iqra bismi rabbika lladzi khalaq</em>» , taat aturan hukum (<em>athi’ullaha wa athi’u rasul wa ulil amri minkum</em>), dan pada nilai-nilai kejujuran sebagaimana sabda Nabi « katakanlah perkataan jujur, atau lebih baik diam saja ». Sayang, kita ini seringkali terjebak pada ajaran ritual saja, pada aspek simbolik dari Islam, bukan pada inti ajaran Islam yang universal. Pada tataran politik, negara-negara Islam akibatnya gagal mewujudkan ajaran luhur Islam itu dalam sebuah sistem yang berkeadilan. Sistem keadilan, kemaslahatan yang bersifat universal inilah yang disebut dengan syariah, bukan aturan/perda syariat yang hanya dipahami dalam konteks hukum konvensional tentang rajam, potong tangan, atau jilbab.</p>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>Apakah itu berarti bahwa negara yang mayoritas penduduk Muslim tidak menjamin menunjukkan wajah Islamnya? </strong></em></p>
<p style="text-align: justify;">Bisa dikatakan demikian. Negara-negara muslim dan umatnya selama ini masih terbelenggu oleh pemikiran Islam model Ghazali saya kira. Pemikiran yang anti akal, anti kemajuan. Pemikiran yang cenderung pada teks dan mistisisme. Jika, pemikiran Ibn Rusyd kita kembangkan, yakni pemikiran cinta pengetahuan, toleran dan menghargai kemanusiaan, Insya Allah umat Islam akan segera bebas dari fitnah kejumudan, kemunduran, kekakuan dan keterbelakangan.</p>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>Benarkah pemikiran bahwa untuk bisa maju umat Islam harus meninggalkan ajaran Islam itu sendiri?</strong></em></p>
<p style="text-align: justify;">Saya sama sekali tidak sependapat. Agama, dalam hal ini Islam, justru mendorong orang untuk maju. Dalam Al-Quran, Allah menyuruh kita untuk menyeimbangkan dunia dan akhirat <em>(wabtaghi fiima ataaka allahu daaral akhirata wa laa tansa nashibaka minad-dunya)</em>. Rasulullah juga nabi yang pandai. Kelirulah anggapan Nabi itu umi, bodoh. Dia juga mengajarkan pengetahuan dan mendorong umatnya untuk maju <em>(thalabul ‘ilmi faridlatun ‘ala kulli muslimin wa muslimatin)</em>. Jadi, kalau ingin maju, kita, umat Islam, harus benar-benar memahami ajaran dasar Islam dan mewujudkannya dalam sebuah sistem yang baku dan berkeadilan. Kemajuan suatu peradaban, pada dasarnya, tidak terlepas dari nilai-nilai primordial yang berlaku. Peradaban Barat juga tak lepas dari nilai-nilai kekristenan. Tak ada beradaban di dunia ini yang berkembang tanpa pondasi nilai-nilai masyarakat. Islam selama lebih dari tujuh abad juga pernah jaya. Itu semua tidak bisa dilepaskan dari spirit Islam. Baru ketika Islam dikerangkeng dalam dogmatisme sempit, radikalisme, dan fundamentalismelah peradaban Islam meredub. Maka, jika kita umat Islam mau bangkit, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah membebaskan mindset dan prespektif kita tentang Islam dari belenggu-belenggu itu. Dan langkah-langkah progresif itu harus dimulai dari dunia pendidikan kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber:<br />
<em>Center for Moderate Moslem</em> Jakarta,  5 Mei 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nubowo.web.id/prioritaskan-jihad-bidang-pendidikan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sesal Kita dan Sesal Mereka</title>
		<link>http://nubowo.web.id/sesal-kita-dan-sesal-mereka</link>
		<comments>http://nubowo.web.id/sesal-kita-dan-sesal-mereka#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Jun 2011 11:19:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nubowo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Maqala]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nubowo.web.id/?p=352</guid>
		<description><![CDATA[Pada pertempuran Hudaibiyah, kaum muslimin berazam mengunjungi Rumah Allah dengan penuh kerinduan. Tiba-tiba di tengah perjalanan, kafilah mereka dihadang oleh kaum kafir musyrik. Kemudian, Nabi membuat pakta perjanjian dengan mereka. Sehingga batal-lah niat mereka ziarah ke Kakbah. Tak pelak, tindakan Nabi ini menimbulkan protes dan kegemparan di kalangan sahabat. Umar bin Khatab menemui Rasulullah dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong> </strong>Pada pertempuran Hudaibiyah, kaum muslimin berazam mengunjungi Rumah Allah dengan penuh kerinduan. Tiba-tiba di tengah perjalanan, kafilah mereka dihadang oleh kaum kafir musyrik. Kemudian, Nabi membuat pakta perjanjian dengan mereka. Sehingga batal-lah niat mereka ziarah ke Kakbah. Tak pelak, tindakan Nabi ini menimbulkan protes dan kegemparan di kalangan sahabat.</p>
<p style="text-align: justify;">Umar bin Khatab menemui Rasulullah dan mengajukan protes, &#8221;Bukankah kita berada di pihak yang benar sedangkan musuh kita berada di pihak yang salah?&#8221; Nabi pun menjawab, &#8221;Kamu benar.&#8221; Kata Umar, &#8221;Mengapa engkau biarkan mereka seenaknya menghina dan meremehkan agama kita?&#8221; Nabi SAW menjawab, &#8221;Sesungguhnya aku adalah Rasulullah.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tidak berani durhaka kepada Allah. Dan Dialah penolongku.&#8221; Kemudian Umar menimpali, &#8221;Tetapi, bukankah engkau telah mengatakan kepada kami bahwa kita akan mengunjungi Kakbah untuk thawaf?&#8221; Lalu Nabi SAW bersabda, &#8221;Betul memang, tapi perlu aku katakan kepadamu bahwa hal itu akan kita tunaikan tahun depan saja.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221;Umar protes, &#8221;Tidak.&#8221; Nabi kembali bersabda, &#8221;Percayalah kamu akan mengunjungi Baitullah dan berthawaf di sana.&#8221; Merasa tidak mendapat jawaban yang memuaskan, Umar menemui Abu Bakar. Namun ketika ia bertanya kepada Abu Bakar, ia mendapatkan jawaban yang sama sebagaimana jawaban Rasulullah. (HR. Bukhari Muslim).</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah peristiwa itu, Umar merasa berdosa besar meski Rasulullah telah memaafkannya. Untuk menghapus dosanya itu, beliau kemudian banyak beramal saleh. Seperti yang beliau tuturkan sendiri kepada Abu Ishak, &#8221;Setelah peristiwa tersebut, lalu aku bersedekah, berpuasa, shalat, membebaskan budak, dan berbuat kebajikan apa saja yang dapat dilakukan pada waktu itu.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Riwayat di atas memberi kita pelajaran berharga bahwa sekecil apa pun dosa yang dilakukan para sahabat selalu disusul dengan penyesalan, tetesan air mata, dan taubat. Meskipun, bisa jadi, apa yang mereka lakukan bukanlah perbuatan dosa dan kemaksiatan, sebagaimana pertanyaan kritis Umar kepada Rasulullah dalam kisah di atas. Sebab di mata mereka, dosa tersebut seakan-akan gunung besar yang siap ditimpakan kepada mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Berbeda dengan generasi kita saat ini. Dosa sebesar gunung, seluas samudera pun dianggap sekecil atom dan sesempit daun kelor. Praktik manipulasi, kolusi, dan korupsi menjadi adegan lumrah di pentas politik negeri. Sikap mau menang sendiri, sok kuasa menjadi adagium popular anak negeri. Fenomena pornografi dan pornoaksi menjadi tontonan dan tuntunan lumrah dan murah. Semuanya dianggap bukan apa-apa, apalagi dosa.</p>
<p style="text-align: justify;">Betapa terpampang jelas di mata kita jurang lebar nan dalam, kesalehan generasi para sahabat dengan kesalahan generasi saat ini. Saatnya kita merenung, betapa mata batin kita telah tertutupi daki-debu duniawi, terlumuri nafsu syahwat-hewani. Wallahu a&#8217;lam bi al-shawab.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nubowo.web.id/sesal-kita-dan-sesal-mereka/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berlomba Dalam Kebajikan</title>
		<link>http://nubowo.web.id/berlomba-dalam-kebajikan</link>
		<comments>http://nubowo.web.id/berlomba-dalam-kebajikan#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Jun 2011 21:37:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nubowo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Maqala]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nubowo.web.id/?p=348</guid>
		<description><![CDATA[Para sahabat Nabi senantiasa berlomba mengabdikan hidupnya dalam kebajikan demi tegaknya kalimat Allah di muka bumi. Umar ibn Khatab r.a, misalnya, senantiasa berlomba dengan Abu Bakar dalam berinfak, sebagaimana yang diabadikan dalam hadis shahih dari Umar ibn Khatab. &#8220;Kami telah diperintah Rasulullah untuk bersedekah, lalu Beliau setuju apa yang ada padaku&#8221;. Kemudian aku berkata, &#8220;Pada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Para sahabat Nabi senantiasa berlomba mengabdikan hidupnya dalam kebajikan demi tegaknya kalimat Allah di muka bumi. Umar ibn Khatab r.a, misalnya, senantiasa berlomba dengan Abu Bakar dalam berinfak, sebagaimana yang diabadikan dalam hadis shahih dari Umar ibn Khatab.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kami telah diperintah Rasulullah untuk bersedekah, lalu Beliau setuju apa yang ada padaku&#8221;. Kemudian aku berkata, &#8220;Pada hari ini aku akan mendahului Abu Bakar. Aku akan mengalahkannya sehari&#8221;. Rasulullah bersabda kepadaku, &#8220;Apakah engkau telah meninggalkan bagian untuk keluargamu?&#8221;. Kemudian aku menjawab, &#8220;Separonya&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian Abu Bakar datang dengan semua harta yang dimilikinya. Lalu Rasulullah bertanya kepadanya, Apakah engkau meninggalkan bagian untuk keluargamu?&#8221;. Abu Bakar menjawab, &#8220;Aku meninggalkan semuanya untuk Allah dan Rasulnya&#8221;. Lalu aku berkata, Aku tidak pernah mendahuluimu untuk sesuatu apapun selamanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Itulah yang dilakukan Umar ibn Khatab dalam rangka memenangkan kompetisi amal shalih atas Abu Bakar, meski beliau selalu dikalahkan oleh Khalifah pertama tersebut. Sebuah manifestasi nyata dari seruan imperatif Allah pada QS. Al-Maidah: 48; QS. Al-Baqarah: 148.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Istibâq al-khairât</em>, berlomba-lomba dalam kebajikan, dinilai bukan dari ukuran, jumlah nominal karya kebajikan tersebut, tetapi yang paling utama adalah spirit untuk senantiasa berbuat baik dan hati yang ikhlas. Spirit kokoh serta hati ikhlas menentukan sikap untuk menerima setiap hasil perlombaan. Ketika mengalami kekalahan, ia tidak mudah menyerah dan putus harapan. Tatkala menang, tidak lantas merasa yang terbaik. Yang terpenting adalah terus berkarya, kalah atau menang untuk mempersembahkan yang terbaik bagi Allah dan Rasul serta makhluk ciptaan-Nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dewasa ini, putra-putri bangsa beramai-ramai mencalonkan dirinya sebagai pemimpin negeri ini. Mereka siap berlomba memperebutkan pucuk pimpinan tertinggi pada setiap pesta rakyat. Harapan kita, tentunya, setiap calon benar-benar ber-<em>fastabiqul khairat</em> bermodalkan spirit dan keikhlasan tinggi. Dua modal utama untuk melangsungkan &#8216;pertarungan&#8217; secara fair, jujur, adil dan menerima segala resiko kekalahan dan kemenangan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetap berjuang terus demi rakyat, dan tidak patah semangat jika menuai kegagalan, apalagi sakit hati, dendam diiringi perusakan. Jika menang, mengabdikan dirinya bagi sebesar-besar kepentingan rakyat, bukan sebesar-besar kepentingan kerabat dan teman dekat. Dan ikhlas <em>lillahi ta&#8217;ala</em> dalam menjalankan amanah bangsa. Sehingga, tindakan apapun yang bertentangan dengan Allah dan rakyat selalu dihindarkan dan dijauhi.</p>
<p style="text-align: justify;">Wal-hasil, sosok pemimpin yang siap berkompetisi secara bijak dan bajiklah yang akan mengeluarkan bangsa Indonesia dari jerat gurita berbagai krisis selama ini. Semoga !! Wallahu a&#8217;lam</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nubowo.web.id/berlomba-dalam-kebajikan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membaca Alam Membaca Ayat</title>
		<link>http://nubowo.web.id/342</link>
		<comments>http://nubowo.web.id/342#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Jun 2011 11:59:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nubowo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Maqala]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nubowo.web.id/?p=342</guid>
		<description><![CDATA[Kawan-kawan yang budiman, Di bawah ini sebuah resensi atas buku Bruno Guiderdoni, &#8220;Membaca Alam Membaca Ayat&#8221;, yang diterbitkan Mizan.  Bersama Anton Kurnia, yang menerjemahkan artikel Inggrisnya, buku ini saya terjemahkan dari Bahasa Perancis saat masih kuliah di Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga. Buku ini merupakan modal saya untuk meraih restu kedua orang tua untuk menikah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Kawan-kawan yang budiman,</p>
<p style="text-align: justify;">Di bawah ini sebuah resensi atas buku Bruno Guiderdoni, &#8220;Membaca Alam Membaca Ayat&#8221;, yang diterbitkan Mizan.  Bersama Anton Kurnia, yang menerjemahkan artikel Inggrisnya, buku ini saya terjemahkan dari Bahasa Perancis saat masih kuliah di Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga. Buku ini merupakan modal saya untuk meraih restu kedua orang tua untuk menikah muda dan sekaligus sebagai mahar pernikahan pada 2003. Alhamdulillah.</p>
<p style="text-align: justify;">Selamat membaca!</p>
<p style="text-align: justify;">AN</p>
<p style="text-align: justify;">=======</p>
<p style="text-align: justify;"><code>Judul : Membaca Alam Membaca Ayat<br />
Penulis : Bruno Guiderdoni<br />
Penerbit : Mizan<br />
</code><code>Tahun Cetak : I, Agustus 2004<br />
Tebal : 208 halaman<br />
</code></p>
<blockquote><p>“Sejauh semesta ada titik awalnya, kita dapat mengira ada penciptanya. Namun, seandainya semesta benar-benar sepenuhnya mencukupi pada diri sendiri, tidak memiliki batas atau titik ujung, semesta tidak memiliki baik titik awal maupun akhir : semesta hanya sekadar ada. Kalau begitu di mana tempat bagi Sang Pencipta?”</p></blockquote>
<p style="text-align: justify;"><em>Stephen Hawking</em></p>
<p style="text-align: justify;">Peristiwa bigbang, atau ledakan besar, bagi Hawking adalah isyarat bahwa Tuhan tak perlu ada dalam proses penciptaan semesta. Tapi tidak bagi seorang kosmolog-muslim yang taat, Bruno Guiderdoni. Justru ia melihat, segenap semesta (ufuq) adalah ayat, atau tanda, yang menunjukkan arah kepada wajah Allah Ta’ala (Al Haqq) yang menghadap ke ciptaan. Karena, bagi Bruno, penemuan dan riset mutakhir dalam bidang astronomi, khususnya kosmologi modern, mengarah kepada sebuah pandangan dunia mirip abad pertengahan Islam. Dan lewat buku inilah, berupa kumpulan artikel serta wawancaranya, Bruno menguraikannya dengan sangat gamblang.</p>
<p style="text-align: justify;">Bruno Guiderdoni adalah seorang astronom di Institut Astrofisika Paris. Pada tahun 1987, ia memeluk islam dan menambahkan Abd Al-Haqq pada namanya, hingga menjadi Bruno Abd Al-Haqq Guiderdoni. Dari tahun 1993-1999, ia membuat program “Mengenal Islam”, sebuah acara di televisi publik Prancis. Ia juga memublikasikan secara luas tulisan tentang teologi dan mistisisme Islam. Sedangkan risetnya sendiri dalam bidang astrofisika, terfokus pada pembentukan evolusi galaksi. Ada kurang lebih 100 makalah lebih yang dia laporkan sebagai hasil riset akademisnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Apa yang membuat Bruno tertatrik pada agama Islam? Di dalam buku ini diceritakan bahwa ada perjalanan spiritual panjang yang harus ia lewati, setelah melaui perenungan pribadi terhadap sifat-sifat dasar pengetahuan dan makna kehidupan. Bruno sendiri, besar di Prancis dalam budaya Kristen sekuler. Setelah sekian lama bergelut dengan dunia sains, akhirnya, ia menyadari bahwa ada sesuatu yang hilang dan kering dalam dirinya, saat melihat dunia sebatas pendekatan saintifik. Akhirnya, ia mulai mempelajari agama-agama di luar Kristen, terutama agama Timur seperti Buddha, Hindu dan filsafat Tao. Tapi kemudian, ia memutuskan untuk memeluk agama Islam, setelah melakukan pendalaman terhadap ajarannya, khususnya doktrin-doktrin tradisi esoterisme-nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sepintas kita hampir tidak menemukan jejak yang menunjukkan bahwa dia seorang ilmuwan astronom modern, kecuali di bagian-bagian akhir buku ini. Tulisan-tulisannya lebih bernuansa pandangan Islam abad pertengahan dalam memandang realitas. Ia seringkali menggunakan kacamata para mistikus seperti halnya Ibnu Arabi dan Farghani, terkadang juga dia membedahnya lewat pandangan para filsuf seperti Ibnu Rusyd dan Ibnu Sina, dan malah berargumen khas Alghazali. Memang itulah alternatif yang ditawarkan Bruno. Karena bagaimanapun, pendekatan saintifik memiliki keterbatasan dalam memandang realitas. Reduksionisme, sebagai basis metodologi sains modern, sangat ampuh di tingkat metodologi, tapi rapuh pada tataran filosofis. Satu-satunya cara adalah kita mencoba melihat realitas dalam kacamata lain. Dan Bruno menganjurkan pendekatan yang lebih spiritual.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam pendekatan spiritual Islam, ujung pencarian dan pembacaan alam semesta adalah pengetahuan. Tapi berbeda dengan definisi sempitnya, pengetahuan di sini adalah pengetahuan yang memiliki konsekuensi ontologis. Artinya, dalam pandangan dunia islam, epistemologi dan ontologi tak terpisahkan. Karena, yang dimaksud dalam Alqur’an sebagai ilmu, adalah pengetahuan yang mengantarkan kepada penyucian diri, transformasi batin, manakala kita memandang semesta, sebagai wajah Al-Haqq. Sehingga pendekatan terhadap realitas seperti yang disinggung Bruno, pastilah bukan semata lewat penalaran, ataupun logika-empirisme, tapi lewat suatu instrumen yang dinamakan para filsuf abad pertengahan sebagai intelek. Nah, sinilah justru letak kekuatan Bruno. Ia sangat piawai menguraikan dasar-dasar epistemologi Islam, yakni cara pandang ajaran Islam dalam memandang pengetahuan berikut instrumennya. Argumentasinya kelihatan jernih, dengan merujuk banyak ayat Alqur’an dan Hadits. Bruno memamparkan bahwa istilah Aql, Qalbu, Shadr, adalah perangkat-perangkat dalam diri manusia yang disebut Alqur’an, yang berguna untuk memahami realitas yang lebih transenden.</p>
<p style="text-align: justify;">Ujung-ujungnya, di bagian akhir buku ini, Bruno menjelaskan beberapa hal yang menuntut asumsi dan pengandaian metafisik dalam memenadang realitas, manakala melihat hasil temuan kosmologi modern. Hasil temuan para astrononom terkini, pada akhirnya selalu berujung pada dua hal. Pertama, adanya ketertalaan yang cermat (fine tuning) dalam proses penciptaan dan struktur jagat raya. Artinya dibutuhkan akurasi yang sangat tinggi sekali semenjak awal penciptaan, sampai unsur-unsur tersusun, hingga menjadi semesta seperti ini. Kedua, adanya universalitas hukum-hukum. Di manapun, dan bagaimanapun kita melihat dan membedah alam semesta, di sana hukum fisika kuantum berlaku universal. Artinya ada prinsip dasar yang menjadi kerangka tegaknya jagat raya. Kedua hal ini, bagi Bruno, mau tidak mau menuntut manusia untuk mengakui adanya Sang Pencpita, dan alam semesta yang tercipta dengan satu tujuan (telos), bukan sesuatu yang kebetulan. Kepekaan metafisika seperti inilah yang dipunyai Bruno, dan tidak dimiliki Hawking. Barangkali itulah yang dinamakan hidayah.</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber:</p>
<p style="text-align: justify;">himawijaya.wordpress.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nubowo.web.id/342/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berjibaku</title>
		<link>http://nubowo.web.id/mengalami-barat</link>
		<comments>http://nubowo.web.id/mengalami-barat#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Jun 2011 13:42:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nubowo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Harmoni]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nubowo.web.id/?p=328</guid>
		<description><![CDATA[Saat tiba di Paris, angin bulan September yang kencang dan kering menandai transisi Musim Panas ke Musim Gugur. Waktu Paris yang lebih lambat 6 jam dengan Waktu Indonesia bagian Barat tentu memicu &#8220;jetlag&#8221; bagi anak kampong yang baru pertama kali pergi ke luar negeri. Meski matahari tampak masih setia memancarkan sinarnya, tepat pukul 5 petang, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Saat tiba di Paris, angin bulan September yang kencang dan kering menandai transisi Musim Panas ke Musim Gugur. Waktu Paris yang lebih lambat 6 jam dengan Waktu Indonesia bagian Barat tentu memicu &#8220;jetlag&#8221; bagi anak kampong yang baru pertama kali pergi ke luar negeri. Meski matahari tampak masih setia memancarkan sinarnya, tepat pukul 5 petang, mata sudah mengantuk.  Sebaliknya, pada pukul 3 pagi, saya terbangun dan mata tidak bisa dipejamkan. Maklum, di Indonesia jarum jam sudah menunjuk pukul 9 pagi. Saya pun menanti waktu shubuh yang baru tiba sekitar pukul 6.30. Hal ini saya alami selama kurang lebih satu pekan.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain soal “gegar waktu”, persoalan lain yang saya alami menyangkut makanan. Perut terasa susah diajak kompromi dengan roti <em>baguette</em> à la Prancis, s<em>andwich</em> <em>poulet</em> (ayam) atau <em>thon </em>(ikan tuna). Dan tentu saja, saya menghindari jenis makanan yang berkadar babi (<em>porc</em>). Bagi saya, urusan “perbabian” merupakan urusan sensitif, menyangkut halal-haram yang saya pelajari di pesantren dulu. Bersikap liberal dalam urusan ini adalah nehi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai orang asing yang muslim, saya harus beradaptasi dengan kultur Eropa atau Barat yang berbeda sama sekali dengan kultur asal. Saya sempat kaget, ketika teman saya yang bule langsung menyodorkan pipinya untuk cipika-cipiki. Padahal, saya telah berusaha menyodorkan tangan sebelah kanan. Walhasil, saya tak bisa menghindar dan terjadilah <em>cipika-cipiki</em> itu untuk pertama kali dalam hidup saya dengan perempuan non muhrim. Hati saya bergetar, bukan karena apa- apa, tetapi takut dimurka Tuhan dan istri. Kultur <em>cipika-cipiki, </em>yang di Indonesia hanya bisa dilihat di tayangan infotainmen, berusaha saya hindari dengan berbagai cara. Meski seringkali gagal.</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu hari saya bertanya kepada Hélène Feillard, anaknya Andrée Feillard, spesialis Islam Indonesia, dan seorang pastur Katolik kawan mengenai masalah ini. Keduanya mengatakan, inilah kultur Barat yang rasional. Agama Katolik yang mengilhami sistem teologis, sosial, politik dan budaya masyarakat Perancis merestui budaya <em>cipika-cipiki</em>, pun sama sekali tidak mengutuk <em>french kissing</em> yang galib dilakukan di ruang-ruang publik.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebaliknya, Gereja Katolik malah selalu mendoakan setiap pasangan meraih kebahagiaan dan kelanggengan mereka dalam cinta. Kultur ini, tampaknya, lebih dulu melembaga sebelum agama samawi seperti Katolik dan Kristen menguasai daratan Eropa. Gereja pun memandang budaya “cipika-cipiki” dan “cium bibir a la Perancis” selaras dengan ajaran cinta kasih Tuhan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kultur akademik Barat yang dibawa Renaisans tertancap kuat di Perancis. Di dalam kompartemen Metro atau RER (kereta api bawah tanah) atau di dalam bus-bus kota, para penumpang terlihat sibuk dengan buku bacaannya. Belum lagi di kampus-kampus. Selain mahasiswa resmi, di setiap mata kuliah yang saya ikuti, saya selalu duduk sebangku dengan ilmuwan, spesialis, atau para pensiunan yang tertarik dengan tema mata kuliah. Mereka tampaknya tidak rikuh bergabung dengan mahasiswa seperti saya yang masih lugu dan belum ngerti apa-apa Mereka pun senang diajak berdiskusi. Tak pandang bulu siapa lawan bicaranya. Mereka selalu antusias mendiskusikan persoalan-persoalan ilmiah di manapun dan kapanpun.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya sering bosan ketika saat rehat di kedai kopi mereka masih berdiskusi dan berdebat. Mahasiswanya pun sama saja. Setiap ketemu, yang diobrolkan adalah persoalan ilmu, pemikiran, dan buku. Saya seringkali berharap mereka menanyakan hal-hal lain yang lebih ringan atau beranda dan bergurau melepas penat-penat di kepala. Tapi, sayangnya, itu tak pernah terjadi. Paling tidak di sekolah tempat saya belajar.</p>
<p style="text-align: justify;">Di sekolah, saya dipaksa untuk belajar filsafat politik Barat dengan berbagai pendekatannya, termasuk psikoanalisa politiknya Sigmund Freud. Ini problem serius bagi saya, terutama menyangkut penguasaan bahasa. Dengan bekal bahasa Perancis yang saya kuasai di Indonesia, kemampuan lingual saya belum apa-apa. Hanya cukup untuk percakapan sehari-hari. Saya harus bolak-balik buka kamus, mutar otak berkali-kali untuk memahami konsep yang pelik dan rumit. Acap, Kamus besar Indonesia-Prancis yang saya boyong dari Jogja, tak sanggup menghadapi konsep filsafat politik yang &#8220;mahal dan mewah&#8221; itu. Akibatnya, bisa berbulan-bulan saya bergulat hanya dengan satu buku. Saya seringkali berpikir, lebih baik belajar di Indonesia dari pada di luar negeri. Dengan alokasi waktu yang sama, di Indonesia kita bisa habiskan banyak buku dan dapatkan banyak ilmu. Atau paling tidak, belajar di negeri anglo-saxon atau negara yang memperbolehkan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Ini saya kira lebih bagus.</p>
<p style="text-align: justify;">Selama satu tahun pertama ini, saya mengikuti kuliah filosof Perancis kontemporer seperti Pierre Manent, dan Marcel Gauchet. Kuliahnya selalu dihadiri banyak peserta. Sayang dua filosof ini belum dikenal di Indonesia. Sebabnya saya kira, karena karya-karya mereka ditulis dalam bahasa Prancis. Filosof-filosof Perancis yang pemikiran-pemikirannya dibaca, ditelaah dan diteliti oleh publik intelektual Indonesia adalah setelah karya-karya mereka diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan atau setelah pemikiran-pemikiran mereka dikenal di Amerika Serikat.</p>
<p style="text-align: justify;">Pierre manent adalah filosof politik pendukung demokrasi liberal, sekaligus spesialis filsafat politik Yunai dan Romawi. Ia juga dikenal sebagai penyambung politolog sekaligus filosof Raymon Aron, murid intelektual Max Weber. Sedangkan Marcel Gauchet adalah filosof, sejarahwan, yang menguasai persoalan agama dan politik, dan totalitarisme seperti halnya Hannah Arendt. Filosof yang saya sebut terakhir terkenal melalui karyanya <em>Le désenchantement du monde : Une histoire politique de la religion</em> (Carut Marut Jagad Raya; Sejarah Agama dan Politik), Gallimard, Paris, 1985.</p>
<p style="text-align: justify;">Pendapatnya yang fenomenal adalah menyangkut perlunya &#8220;agama keluar dari agama sendiri&#8221; <em>(sortie de religion de la religion</em>). Maksudnya, di jaman yang serba modern, orang beragama atau agamanya sendiri harus keluar dari agama struktural, yang mewujud dalam bentuk organisasi melalui individualisasi dan etasisasi keyakinan. Ini sama sekali tidak menolak agama sebagai sesuatu yang <em>divin, surnaturel</em>, tetapi menjadikan agama sebagai kepercayaan moral dan individual. Dengan begitu, agama dan umat beragama dengan mudah dapat memanifestasikan nilai-nilai keyakinannya tanpa harus terikat dengan simbol atau struktur dogmatis agama.</p>
<p style="text-align: justify;">Marcel Gauchet, sebenarnya, tidak hanya membatasi agama pada definisi agama wahyu, tetapi juga agama-agama sekuler yang ada. Konsep ini sebenarnya mirip dengan agama <em>new age</em> yang telah kita ketahui selama ini. Saya tidak tahu persis, konsep itu muncul dan ramai sejak kapan. Sebagai catatan, konsep &#8220;<em>sortie de religion de la religion</em>&#8221; ini sudah dikabarkan pertama kali oleh Marcel Gauchet sejak 1985 (tahun terbit buku le Désenchantement du monde). Inilah cara beragama yang modern.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain mata kuliah filsafat politik, saya juga ikut mata kuliah yang diampu Olivier Roy, mata kuliah ini wajib diikuti karena dia adalah pembimbing saya. Olivier Roy adalah spesialis Islam kategori selebritis. Sebab selain dikenal&#8211;saya kira, di jagat studi Islam dan politik, karya dan pendapat-pendapatnya kerap dijadikan rujukan oleh Pemerintah Perancis dalam mengambil kebijakan menyangkut Dunia Islam. Saya sebagai mahasiswa bimbingannya, merasa senang sekaligus sedih: senang, karena bisa belajar dan dibimbing langsung dengan dia, sedih karena susah sekali bertemu dengan dia untuk sekedar diskusi atau minum kopi, dengan dalih sering keluar negeri. Akibatnya, saya susah berkonsultasi.</p>
<p style="text-align: justify;">Di Perancis, dan saya kira di Barat lainnya, seorang profesor teramat menentukan bagi karir akademik seseorang. Seorang mahasiswa tidak pernah ditanya di mana kampus tempat kita belajar, tetapi siapa pembimbingnya. Ini yang musti ditanyakan dalam setiap perkenalan di lingkungan sekolah. Saya berharap, mudah-mudahan saya bisa menyerap ilmu dan kultur akademik yang saya alami di negeri hexagonal ini. tapi, seringkali semangat selalu kalah dengan kemalasan, spirit yang rendah, dan kultur bawaan saya yang &#8220;ndeso&#8221; dan &#8220;katro&#8221; &#8212;bahasanya Thukul Arwana Empat mata.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah tujuh bulan lebih saya tinggal di Prancis, saya sudah merasa senang dan betah. Saya mulai sedikit demi sedikit mencerap peradaban Barat yang luar biasa; kebebasan berekspresi, akademik, dan individu. Tentu saja, masih juga terdapat borok hitam peradaban Barat yang mengusung dignitas demokrasi modern ini. Sebagai anak kampong, saya sering berpikir apakah tidak seharusnya konsep demokrasi yang tengah diterapkan di negara kita Indonesia sepenuhnya meniru konsep Barat, dengan kontekstualisasi dan modifikasi sesuai dengan tabiat dan sejarah bangsa.</p>
<p style="text-align: justify;">Barat dengan demokrasinya adalah penguasa peradaban dunia saat ini. Maka, untuk mengejar ketertinggalan Barat, Indonesia perlu melirik sistem demokrasi. Tidak ada gading tak retak. Meskipun demokrasi Barat tak sunyi dari cacat, tapi sejarah mencatat Baratlah pemegang pendulum peradaban kontemporer. Singkat kata, untuk mengalami demokrasi, kemajuan, dan peradaban, tidak berdosa untuk mengalami Barat dengan apa adanya. Proses &#8220;mengalami Barat&#8221; sekarang inipun telah menjadi pilihan negara-negara Timur Tengah (Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, Kuwait), minus Arab Saudi yang wahabi. Dus, demokrasi dan kemajuan tengah berkecambah di kawasan itu. Mudah-mudahan, kita tak salah menentukan arah negeri kita di tengah dua pilihan pelik; demokrasi atau rigorisme sempit atas nama wahyu.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Paris, Juli 2007</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nubowo.web.id/mengalami-barat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sentuhan Pertama</title>
		<link>http://nubowo.web.id/sentuhan-pertama</link>
		<comments>http://nubowo.web.id/sentuhan-pertama#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Jun 2011 13:36:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nubowo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Harmoni]]></category>
		<category><![CDATA[Menara Eiffel]]></category>
		<category><![CDATA[Monalisa]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad Abduh]]></category>
		<category><![CDATA[Paris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nubowo.web.id/?p=325</guid>
		<description><![CDATA[Begitu mendarat di Bandara  Roissy Charles de Gaule di utara kota Paris, pukul dua siang, 2 September 2006, seorang kawan menjemput. Kawan saya itu sedang mengambil program doktor pencitraan medis (medical imagery) di salah satu universitas terkenal di Paris. Urusan imigrasi tidak ketat. Saya hanya disuruh menunjukkan paspor dan visa. Setelah membeli tiket kereta bawah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Begitu mendarat di Bandara  Roissy Charles de Gaule di utara kota Paris, pukul dua siang, 2 September 2006, seorang kawan menjemput. Kawan saya itu sedang mengambil program doktor pencitraan medis (<em>medical imagery</em>) di salah satu universitas terkenal di Paris. Urusan imigrasi tidak ketat. Saya hanya disuruh menunjukkan paspor dan visa. Setelah membeli tiket kereta bawah tanah ke Paris, kami pun segera naik RER B, kereta penghubung bandara dengan Paris.</p>
<p style="text-align: justify;">Mendekati kota Paris, kereta itu tak lagi berjalan di daratan, tetapi di bawah tanah. Kami turun di stasiun Paris Nord dan berganti Metro (<em>subway)</em> menuju Eiffel. Selama perjalanan di atas Metro, Saya belum tahu rupa kota Paris. Metro itu membawa kami terus menembus lorong-lorong gelap di bawah tanah. Setelah empat puluh menit, kami pun tiba di Stasiun Trocadero. Kami keluar melalui eskalator.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu keluar dari mulut stasiun, Saya baru bisa merasakan denyut nadi kota Paris yang sebenarnya. Udara saat itu masih dingin, kira-kira minus tiga derajat. Jaket tebal yang saya beli di Yogyakarta serasa tidak mampu menahan suhu minus Musim Dingin saat itu. Jalan-jalan lengang. Hanya satu dua kendaraan yang terlihat melintas. Orang Paris tampaknya lebih suka berjalan kaki atau naik kendaraan umum yang bersih dan nyaman. Bentuk arsitektural bangunannya klasik dengan ukiran bunga di bingkai jendela. Tata kotanya teratur dan semetris.</p>
<p style="text-align: justify;">Indahnya Kota Paris langsung mengingatkan saya pada seorang pemikir sekaligus pembaharu Muslim, Muhammad Abduh (1849-1905). Penafsir Al-Qur’an al-Mannar ini pernah menyatakan bahwa nilai-nilai Islam lebih hidup di Paris dari pada di negaranya sendiri. Negaranya Mesir, yang selama ratusan tahun setidak-tidaknya di bawah pengaruh politik dan peradaban Muslim, jauh tertinggal dari peradaban yang ia temui di Paris dan Eropa pada umumnya. Oleh karena itu, frase terkenal yang pernah ia ucapkan adalah “al-islâmu mahjub bil-muslimîn”, yang artinya “(keelokan) Islam itu terhijab oleh perilaku umat Muslim sendiri”.</p>
<p style="text-align: justify;">Muhammad Abduh tiba di di penghujung abad 19, tepatnya 1884. Abduh terkesima dengan kemajuan pengetahuan dan teknologi, keadilan dan kemakmuran sistem sosialnya. Abduh bersama gurunya Jamaluddin Afghani menerbitkan majalah sohor ‘<em>Urwatul Wutsqa</em>. Konon, KH. Ahmad Dahlan gemar membaca jurnal ini di samping karya tafsirnya <em>Al-Mannar</em>. Dari sanalah ide-ide pembaharuan yang ditekuni organisasi Islam modern terbesar di Indonesia bahkan di dunia Muhammadiyah mengalir.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu kaki menginjakkan altar Trocadero, Menara Eiffel memperlihatkan keanggunannya. Ribuan pelancong memadati kaki Eiffel. Ribuan kali jepretan foto menjadikan Eiffel dan kerangkanya yang kukuh sebagai latar belakang. Saya melihat antrean panjang mengular di empat pilar Eiffel. Ternyata, mereka sedang sabar menunggu giliran naik ke puncak Eiffel. Saya pun tertarik untuk ambil bagian dalam antrean panjang itu. Setelah dua jam antre, akhirnya saya bisa menikmati keindahan tata kota Paris dari puncak Eiffel.</p>
<p style="text-align: justify;">Selepas gelap, Eiffel memancarkan cahaya kuning dari tiap kerangkanya. Mungkin, ada puluhan ribu lampu-lampu itu terpasang. Setiap satu jam dalam lima belas menit, cahaya kuning berganti dengan kerlap-kerlip <em>lighting</em> disko. Saya punya kesan, Eiffel siang dan malam sangat berbeda. Kala siang, Eiffel adalah seonggok besi tua perkasa, menjulang tinggi menyimbolkan kedigdayaan peradaban negerinya. Sifat maskulin begitu kentara di waktu terang. Kokoh berdiri dengan topangan empat pilar di utara, selatan, barat dan timur. Warnanya coklat kehitam-hitaman, tak lebih dari rangka baja gubahan Gustave Eiffel pada 1889. Sebaliknya, kala gelap unsur feminin begitu menonjol dengan <em>lighting </em>kuning keemasan yang memancar dari tiap detil rangkanya. Beranjak larut, Eiffel begitu genit menebarkan kemerlip feminitasnya. Anggun dan elegan.</p>
<p style="text-align: justify;">Eiffel bukan gubahan agung nir-makna. Ia bukan sekedar tempat bermain anak-anak dan bercengkerama para remaja, atau tempat melepas lelah bagi para dewasa. Ia penanda bagi sebuah martabat akal, martabat <em>renaissance.</em> Ia lahir dari gemuruh Revolusi Industri pada paruh pertama abad XIX. Gemuruh penuh deru yang melahirkan penemuan-penemuan fisik, termasuk besi baja. Sains lahir bukan dari rasa takut terhadap dogma, tetapi melawan setiap dogma untuk membuktikan kebenarannya. Sains menyuguhkan peradaban fisik sekaligus spiritual. Tetirah Eiffel bukti bahwa baja tua itu menghantarkan para pengunjung pada lelaku spiritual dan akal budi (<em>intellectual and spiritual tourism).</em> Ia pun begitu magis, memikat jutaan orang untuk berkunjung dan berfoto dengannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Keesokan harinya, saya pergi ke Museum Louvre. Saya tak sabar melihat potret Monalisa di dalamnya. Karya Leonardo da Vinci tahun 1503 ini masih menyimpan misteri yang melahirkan beragam teori. Ada yang mengatakan, Monalisa itu seorang laki-laki. Pendapat lain mengatakan, seorang ibu di Abad Pertengahan yang baru saja melahirkan. Dari lukisan itu, berbagai ilmu muncul.  Luar biasa. Sebuah lukisan melahirkan berbagai  riset lintas disiplin dari politik, sosial, budaya, ilmu kode dan sebagainya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya menyaksikan ribuan orang mengantre teratur di pintu masuk Louvre. Sembilan puluh lima persen pelancong berkulit putih. Dari kulit dan rambutnya, saya yakin mereka ini beras <em>caucasoid, </em>ras Eropa.  Hanya sedikit wajah Asia. Itupun biasanya dari Jepang atau Korea selatan. Tampaknya, bagi bangsa Eropa museum memiliki arti yang sangat penting. Dan mereka bangga mengidap <em>museumacholic</em>, gila ke museum. Museum Louvre, tempat lukisan Monalisa disemayamkan, adalah museum tua dan paling banyak dikunjungi di dunia.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiap hari, puluhan ribu pelancong memadati bangunan klasik berpiramid itu. Mereka berduyun-duyun datang. Merelakan diri diterjang terik dan lelah. Selama berjam-jam mereka kunjungi peradaban demi peradaban. Mereka tak hanya melihat atau sekedar berfoto, tetapi meresapi keagungan peradaban masa silam. Menjumput makna dan pelajaran. Saya sendiri merasa menembus lorong waktu, berada di tiap peradaban yang aku sapa dengan kesima. Artefak peradaban Barat, Timur, Asia, bahkan Indonesia bukti bahwa nenek moyang saya  sungguh luar biasa.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain di Louvre, museum-museum di seantero Paris tak pernah sepi. Di museum-museum itu, Museum Orsay dan Rodin misalnya, saya temukan betapa penghargaan terhadap wanita begitu besar. Patung berpualam mengukir diri dalam <em>silhouette </em>tubuh perempuan. Kanvas dengan bangga dilumuri cat-cat warna-warni membentuk rupa perempuan. Karya-karya itu jauh dari senonoh. Sebaliknya bercita seni tinggi.</p>
<p style="text-align: justify;">Karya-karya itu merupakan persembahan bagi perempuan. Bagi para seniman Perancis dan Eropa, perempuan adalah mahakarya Tuhan yang harus dihormati. Ia tak sekedar tubuh, tapi martabat. Ia ibu dari setiap peradaban. Perempuan yang terukir dalam pualam putih atau terlukis dalam kanvas adalah pemilik dunia ini. Di balik tubuhnya yang indah, lemah gemulai, peradaban manusia mengalir darinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagi saya, berkunjung ke museum tak kalah pentingnya dengan wisata spiritual lainnya. Di sana, kita bisa bercermin dengan masa lalu. Kita bisa menadah spirit berkeadaban yang dikembangkan para pendahulu. Bisa belajar dari kesalahan, keburukan, kegagalan masa lalu. Kita pun tak ragu belajar dari kebajikan, kesalehan, dan kecemerlangan nenek moyang.</p>
<p style="text-align: justify;">Paris di musim dingin itu mengajari saya banyak makna dari laku wisata yang saya alami.</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber:</p>
<p style="text-align: justify;">Majalah Matan, PWM Jawa Timur.</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nubowo.web.id/sentuhan-pertama/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

