Menjadi Muslim yang Sahih di Perancis
Posted by nubowo on May 28, 2009 in Harmoni, Maqala | 0 comments
Pukul 7.30, kereta bawah tanah, Metro, jalur 9 yang saya tumpangi bergerak. Kereta penuh sesak. Maklum, jam padat saat mana penduduk Paris dan sekitarnya berangkat beraktivitas. Beruntung, saya dapat tempat duduk di bagian tengah di gerbong paling belakang. Di depan saya duduk dua gadis cilik berjilbab, masing-masing berusia kira-kira 8 dan 11 tahun. Wajah mereka tirus, berhidung mancung, bermata hitam kecoklatan, dan berkulit putih. Kedua tangan mereka membekap buku-buku pelajaran. Saya lirik sampul salah satu buku itu. Di atasnya terbaca tulisan “Histoire de France”. Sambil menunggu stasiun tujuan, kedua gadis cantik itu bercakap dalam bahasa Perancis. Saya tak cakap menerka ras atau asal usul mereka: ras eropa atau Arab atau yang lainnya. Yang pasti, keduanya adalah gadis muslimah cilik.
Di stasiun Rue de la Pompe, kedua muslimah cilik itu turun. Penasaran, saya memutuskan untuk turun dan mencari tahu ke mana kedua gadis itu menuju. Saya ikuti kedua gadis itu dari belakang hingga mereka masuk ke sebuah gedung. Saya lalu mendekati sebuah plakat kecil tertempel di dinding sekolah: “Ecole Catholique”. Inilah jawabannya: kedua gadis muslimah itu menimba pengetahuan di sekolah Katolik di Paris. Di depan gedung telah menunggu para guru. Kedua gadis itu menguluk salam pada guru dan kawan-kawannya yang juga baru tiba. Di halaman sekolah, sebelum bel masuk berbunyi, murid laki-laki dan perempuan berkerumun dan membaur dalam suasana penuh suka cita. Selama tiga tahun di Perancis, persis baru pagi itu saya jumpai pelajar muslim berjilbab di sekolah Katolik di kota parfum dan model itu.
Keesokan harinya, pada jam yang sama, saya bertemu kembali dengan dua gadis cilik itu. Menumpang kereta yang sama, kali ini saya mengajak mereka bercakap. Kuketahui, gadis 8 tahun bernama Aicha Ballarin dan yang 11 tahun, Salama Guillot. Kedua orang tua mereka asli Perancis. Di awal tahun 2000, orang tua Aicha masuk Islam, sedang orang tua Salama masuk Islam pada tahun 2004. Awalnya, Salama bersekolah di sekolah publik, lalu pindah ke sekolah Katolik yang sekarang. Di sekolah publik, mereka tak dapat mengenakan jilbab. Di sekolah Katoliklah jilbab mereka dapat menutupi kepalanya tanpa hambatan. Sekolah Katolik menerima siswi berjilbab! Luar biasa!
Saat ini, Islam adalah agama kedua setelah Katolik di Perancis. Dari 60 juta penduduk Perancis, kurang lebih 10 persennya adalah muslim. Islam sebenarnya sudah hadir di Perancis sejak abad ke-8, saat Dinasti Umayah Spanyol berkuasa. Populasi muslim diketahui berada di Perancis bagian selatan seperti Toulouse, Montpellier, dan Marseille. Karena peristiwa politik, populasi umat Islam pada masa itu tidak berkembang. Lalu, pada Perang Dunia I, serdadu-serdadu muslim dari jajahan Perancis di Afrika Utara (Aljazair, Maroko, dan Tunisia) masuk dan menetap di tanah Napoleon. Karena jasa serdadu-serdadu muslim yang gugur untuk Perancis, maka pemerintah menghadiahi sebidang tanah di pusat kota Paris kepada kaum muslim. Di atas sebidang tanah itulah Masjid Agung Paris (Grande Mosquée de Paris) pada 15 Juli 1926 diresmikan. Setelah Perang Dunia II, terjadi gelombang imigrasi muslim dari negara-negara muslim di Afrika Utara, Turki, Yugoslavia (Bosnia dan Albania) untuk bekerja merekonstruksi Perancis pasca perang.
Pekerja imigran itu menetap, berkeluarga, dan menjadi warga negara Perancis. Anak-anak mereka lahir, tumbuh dan bersekolah di Perancis. Generasi kedua, ketiga dan seterusnya tumbuh dalam dua budaya. Di rumah, mereka dituntut menjadi muslim. Di luar, mereka harus menjadi warga Perancis yang republikan dan sekuler. Bagi sebagian dari mereka, hal ini merupakan cul de sac, sehingga mereka harus memilih: menjadi muslim atau tidak sama sekali. Mereka akhirnya jatuh pada ektremisme keagamaan atau ateisme. Sementara yang lain terus berupaya mempertahankan keislaman dan kultur asal mereka sembari mengawinkannya dengan nilai-nilai Perancis yang sekuler. Mereka yakin bisa menjadi orang Perancis sekaligus muslim yang baik. Sekulerisme yang diatur dalam UU Laïcité (Sekularisme) tahun 1905 justru menjadi rumah nyaman di mana mereka bisa menjadi muslim sekaligus warga Perancis yang saleh.
UU Sekularisme yang diterapkan sejak 1905 menjadi jaminan mutlak kebebasan individu untuk berkeyakinan (liberté de conscience). UU ini tegas mengatur pemisahan agama dan negara, tetapi menjamin setiap agama dan keyakinan dapat hidup berdampingan. Dalam batas-batas tertentu, untuk memastikan netralitas agama dan menjamin integrasi sesama warga Negara, UU 1905 ini tidak membolehkan hadirnya simbol-simbol keagamaan apapun di sekolah publik dari TK hingga SMA. Aturan ini untuk menghindari disintegrasi dan segregasi antar siswa yang berlainan agama, ras dan kebudayaan. Sekolah di Perancis adalah forum belajar di mana siswa diharapkan dapat mengembangkan nilai-nilai kewarganegaraan yang menjunjung tinggi asas saling pengertian, saling menghormati dan toleransi. Di perguruan tinggi dan di ruang publik, jilbab, salib, kippa bebas masuk ruang kuliah. Umat beragama hanya dituntut untuk melepaskan simbol keagamaan mereka di sekolah publik dini hingga menengah. Karena itulah, bagi orang tua muslim yang menginginkan putrinya tetap mengenakan jilbab, sekolah swasta Katolik adalah pilihan yang tepat sebagaimana orang tua Aicha dan Salama.
Di bawah sistem sekulerisme Perancis, kini populasi muslim terus membengkak. Masjid-masjid didirikan di berbagai tempat, terutama di pinggiran kota-kota besar seperti Paris, Lyon, dan Marseille. Di pusat perbelanjaan, bus, dan kereta kian banyak muslimah mengenakan jilbab. Di sudut-sudut kota, restauran dan toko-toko daging halal bertebaran. Di supermarket, tersedia produk-produk halal. Lambat laun, warna Islam mulai terasa di Perancis. Setiap tahun, sekitar 2500-3500 orang Perancis pribumi memeluk Islam. Di antara mereka adalah Pierre Ballarin, bapaknya Aicha dan Jean-Paul Guillot, bapaknya Salama. Belum lagi bintang-bintang sepakbola yang hijrah seperti Frank Ribery, Nicolas Anelka, Eric Abidal, Lilian Thuram dan sebagainya.
Perkembangan ini, secara umum, tidak dirasa menganggu atau mengancam sistem sekuler Perancis. Justru sebaliknya, memperkaya. Di pemerintahan, Presiden Nicolas Sarkozy menunjuk tiga menteri muslim, yakni Ramatoullah Yade, Rachida Dati dan Fadela Amara. Bagi mayoritas Muslim Perancis, sekulerisme Perancis menjadi berkah. Kawan saya, Fatima Ladada, 24 tahun, dari Aljazair, mengatakan pada saya: “kami bisa bebas menjalankan Islam di Perancis yang sekuler daripada di negara kami sendiri yang muslim. Menjadi muslim yang sahih tidak harus mengikuti tradisi Arab, tetapi menjaga nilai-nilai Islam yang hakiki supaya Islam tetap lestari di pojok benua manapun”
Saya teringat media-media Islam Indonesia beberapa tahun lalu mengutuk Perancis sebaga negara anti jilbab dan Islam. Dan gambaran buruk itu terbukti tidak menemukan fakta kuat di lapangan. Di dalam tenda Perancis yang sekuler, Islam dan umatnya bisa bebas tumbuh dan merajut harmoni dengan kaum beragama lainnya.
Majalah Madina, Edisi Mei 2009
