Prioritaskan Jihad Bidang Pendidikan
Posted by nubowo on Jun 13, 2011 in Maqala | 0 comments
Kemajuan peradaban kaum Muslim tidak bisa dilepaskan dari spirit Islam. Ketika Islam dikerangkeng dalam dogmatisme sempit, radikalisme, dan fundamentalisme, peradaban Islam meredup. Jika umat Islam mau bangkit, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah membebaskan mindset dan perspektif kita tentang Islam dari belenggu-belenggu itu. Langkah-langkah apa yang harus dilakukan oleh kaum Muslim dan jihad di bidang apa yang harus menjadi prioritas? Berikut perbincangan Reporter CMM dengan Andar Nubowo, Kandidat Phd dari Centre de Recherches Politiques Raymond Aron (CRPRA) Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales (EHESS) Paris, France dan Ketua PCIM Muhammadiyah Perancis:
Salah satu problem umat Islam saat ini adalah ketertinggalan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Menurut Bapak, kenapa ini terjadi?
Begini, yang tertinggal itu siapa, negara-negara muslim atau umat Islam ? Kita harus bedakan dua aspek itu. Saya kok melihat umat Islam, termasuk muslim Indonesia, sudah maju-maju dalam soal penguasaan pengetahuan dan teknologi. Dalam bidang ilmu-ilmu sosial-humaniora, tahun 2008 lalu, Majalah Foreign Policy/Prospect menempatkan 10 besar ilmuwan berpengaruh di dunia adalah muslim. Ada Fethullan Gulen, Muhammad Yunus, Yusuf Qardhawi, Tariq Ramadhan, Shiren Ebadi. Baru di urutan 11 dan seterusnya Noam Chomsky dan lain-lain. Mereka ini ilmuwan-ilmuwan tangguh dibidangnya yang diakui secara internasional. Dari Indonesia, Anies Baswedan, masuk dalam 100 top intelektual dunia. Dalam domain sains, umat Islam juga menunjukkan prestasi yang luar biasa. Tak kalah dengan bangsa-bangsa maju. Di Indonesia, kita punya UGM, ITB, IPB, UI, UIN yang setiap tahun mencetak sarjana-sarjana sains yang cukup handal. Prestasi mahasiswa muslim kita di luar negeri juga menunjukkan prestasi yang mengagumkan. Tak kalah dengan kawan-kawannya yang non-muslim dari negara-negara maju. Mereka menulis di jurnal-jurnal internasional. Banyak di antaranya yang kemudian ditawari untuk bekerja atau mengajar di kampus luar negeri. Belum lagi jumlah doktor dan profesor muslim yang kita miliki. Jadi, secara individual, SDM umat Islam itu sama sekali tidak ketinggalan. Nah, problemnya saat ini hampir tidak ada negara muslim yang menjadi kampium IPTEK. Ini lebih disebabkan oleh buruknya kebijakan politik pendidikan dan manajemen SDM di negara-negara muslim, termasuk Indonesia. Politik pendidikan kita, misalnya, masih berkutat pada persoalan-persoalan dasar seperti bagaimana bangsa Indonesia itu terbebas dari buta huruf, bisa bekerja dengan baik, dan hidup dengan layak. Tetapi belum diarahkan pada mentalitas atau spirit untuk memajukan peradaban Indonesia lewat IPTEK. Hal ini diperparah dengan manajemen SDM yang buruk, sehingga saudara-saudara kita yang berprestasi dalam IPTEK beramai-ramai eksodus ke luar negeri. Kasus PT DI menjadi contoh terbaik. Dengan kata lain, negara-negara muslim masih sangat buruk penghargaannya pada kemajuan IPTEK.
Bagaimana pengamatan Bapak terhadap lembaga-lembaga pendidikan Islam saat ini?
Kita lagi bicara lembaga pendidikan Islam di Indonesia kan ? Wah, ini menarik. Menurut saya, lembaga-lembaga pendidikan Islam di Indonesia perlu mengembangkan pendidikan kritis, yakni mengajak peserta didik untuk « memahami », bukan « mengetahui ». Esensi pendidikan sebenarnya adalah mengajak siswa untuk berpikir bebas, substantif, imajinasi, visioner, kreatif dan inovasif. Hal ini hanya bisa tercapai melalui metode pendidikan yang membebaskan nalar tumbuh secara kritis dan terbuka. Selama ini, setahu saya, pendidikan di sekolah-sekolah Islam (dan juga sekolah umum lainnya) identik dengan menghafal untuk sekedar bisa menjawab soal saat ujian dan mendapatkan nilai yang baik. Misalnya, saat belajar matematika, siswa disuruh menghafal rumus, bukan memahami proses pembentukan rumus. 2+1=3, bukan mengapa 2+1=3. Dalam pelajaran sastra, ini sungguh tragis, siswa malah disuruh menghafal puisi « Aku » karya Chairil Anwar, bukan disuruh menggubah puisi. Akibatnya, sekolah turut menciptakan cara berpikir instan, dan memproduksi mentalitas yang gandrung pada sesuatu yang bersifat lahiriah, simbolik, dan materialistik. Emang gue pikirin, yang penting gue bisa lulus. Jadi, budaya-budaya buruk yang melekat pada bangsa kita secara keseluruhan, sejatinya, tanpa disadari, sudah tersemaikan lewat dunia pendidikan kita
Apa yang harus dilakukan untuk mengangkat mutu lembaga pendidikan Islam?
Menurut saya, lembaga pendidikan Islam perlu mengenalkan filsafat dan seni. Filsafat, sebagai sebuah metode berpikir, dapat mengarahkan peserta didik untuk bisa « memahami » ilmu pengetahuan dan fenomena sosial dan alam di sekitarnya dengan baik. Filsafat sebagai cara berpikir, bukan pelajaran Filsafat itu sendiri. Ini perlu dicatat. Di Perancis, sejak TK, anak-anak sudah diarahkan untuk berpikir kritis, abstrak dan konseptual. Misalnya, anak TK disuruh untuk mendefinisikan meja. Apa itu meja ? Mengapa meja berbentuk segi empat ? Apakah meja selalu berbentuk segi empat ? Mereka, anak-anak TK itu dilatih berpikir secara konseptual untuk memahami suatu benda atau fenomena. Baru di tingkat SMA, pelajaran Filsafat dikenalkan. Peserta didik juga perlu diajarkan seni. Seni dapat memperhalus budi pekerti. Seni juga dapat mengantarkan peserta didik pada sikap mencintai dan menghargai kemanusiaan. Jadi, saya terus terang, tidak terlalu suka dengan sekolah-sekolah Islam unggulan yang sekarang menjamur di Indonesia. Sekolah-sekolah itu mementingkan kognisi (IQ), sedang afeksinya (emosi) dimarjinalkan. Sekolah jenis ini seringkali malah mengebiri fase perkembangan anak. Anak SD yang seharusnya akrab dengan dunia anak-anak, sudah dijejali soal-soal kognitif yang tak sesuai dengen perkembangan jiwa dan emosi mereka. Banyak jebolan sekolah unggulan yang di jenjang sekolah berikutnya gagal secara akademik dan mental. Layu sebelum berkembang.
Sebagian lembaga pendidikan Islam dicurigai mengajarkan jihad dalam arti perang (kekerasan fisik), mengapa ada penilaian seperti ini?
Ini cukup memprihatinkan. Pendidikan agama di lembaga Islam masih menggunakan indoktrinasi yang didasarkan pada penafsiran kaku terhadap ajaran Islam. Maka, orang tua kadang bingung pada perubahan diri si anak yang tidak mau berteman lagi dengan kawannya yang non-muslim, atau bahkan pada kawan yang tidak sealiran dengan lembaga pendidikan di mana dia sekolah. Pendidikan seperti ini, saya kira, gagal dalam menanamkan nilai-nilai luhur Islam yang damai. Sebaliknya, ia berhasil menanamkan ekskusivisme dan truth claim yang menjadi « bom waktu» di kemudian hari. Hal ini bukan hanya soal mindset, tetapi soal pendekatan pendidikan juga. Seperti yang saya ungkapkan di muka, pendidikan di sekolah Islam perlu mengintroduksi cara berpikir kritis dan berkesenian. Jika, dua hal ini dikembangkan di lembaga Islam, maka ajaran jihad tidak akan dipahami dalam satu pengertian saja, yakni « berperang, bertempur melawan musuh », tetapi lebih dari itu jihad dapat dipahami dalam konteks kemanusiaan yang lebih luas, misalnya « belajar giat », « berjuang menegakkan keadilan », « bergiat dalam meraih kemajuan ». Intinya, jihad demi kemakmuran dan kemaslahatan seluruh umat manusia. Inilah pengertian sesungguhnya, bagi saya, dari adagium « Islam rahmatan lil’alamin ».
Aksi-aksi kekerasan yang terjadi di negara-negara yang mayoritas penduduknya muslim, menyebabkan banyak kalangan, khususnya Barat mengindentikan Islam dengan kekerasan, mengapa terjadi demikian?
Penilaian itu tidak terlepas dari perilaku umat Islam sendiri. Kita ini tersinggung kalau dibilang Islam agama kekerasan, tetapi tanpa kita sadari, kita sendiri memproduksi kekerasan. Saya kira, hanya sekian persen saja umat Islam yang radikal, kaku, dan keras. Tapi, yang sedikit itu merusak keramahtamahan Islam dan citra mayoritas umat Islam yang ramah, bukan marah. Terorisme Al-Qaeda, Taliban di Afghanistan, dan perilaku buruk mereka pada perempuan menjadi dalih munculnya islamophobia di Barat. Tapi, saya melihat sebagian kelompok di Barat mengidap miyopisme, kaca mata kuda, dalam melihat Islam dan fenomena umatnya. Mereka lebih tertarik melihat Islam di Timur Tengah dan Asia Tengah yang kaku, rigid, dan keras daripada misalnya Islam di Asia Tenggara. Mereka hanya melihat satu bentuk fenomena Islam, yakni Islam radikal, dan Islam yang hidup di kawasan gurun. Mereka tak mau tahu dengan jenis Islam ramah yang berkembang di Indonesia misalnya. Meski perkembangan terakhir menunjukkan bahwa arabisasi Islam di Indonesia semakin menguat. Hal ini yang perlu diwaspadai, sebab islam jenis ini mencampuradukkan budaya Arab dengan ajaran Islam yang hakiki. Jika kita acuh, jenis Islam Indonesia yang ramah, moderat dan toleran akan dilibas oleh kekuatan Islam yang kaku dan keras, yakni Islam impor. Jika sudah demikian, citra keramahtamahan Islam punahlah sudah.
Apa yang harus kita lakukan untuk menghadapai invasi peradaban Barat?
Kita harus terbuka dengan kemajuan Barat, tetapi kritis terhadap budaya yang tak cocok. Kita harus tolak westoksisasi (pembaratan) dan menerima westernisasi (menerima yang baik dan cocok dari peradaban Barat). Kita mesti belajar dari peradaban Barat dengan kepala dingin dan tangan terbuka. Tetapi, harus secara jentel membuang racun-racun Barat yang tidak sesuai dengan budaya kita. Dulu, pelajar-pelajar Barat (Eropa) pada Abad Pertengahan tanpa malu berguru pada ulama-ulama muslim, seperti Ibn Rusyd, Ibn Sina, Ibn Bajjah dll. Mereka tetap memelihara identitas mereka, dan kemudian mengembangkannya di negaranya sendiri. Maka, tidak heran, jika kebangkitan Barat sebenarnya dipengaruhi oleh para ulama dan filosof-filsosof muslim. Kita ini terlalu curiga dengan Barat. Semua yang datang dari Barat haram. Demokrasi haram. Pers bebas tidak boleh. Pada saat yang sama, kita terlalu ringkih untuk mengimitasi produk-prosuk budaya Barat. Dua kutub ekstrim dalam menyikapi Barat inilah yang perlu dikoreksi. Sebab, keduanya justru tidak menguntungkan. Sikap yang menurut saya tepat adalah, kita ambil «api» Barat, dan kita buang « abunya ».
Bukankah nilai-nilai etik (menjunjung tinggi hukum, disiplin, dan jujur) merupakan wajah Islam yang sebenarnya?
Betul. Tidak diragukan lagi. Quran mengajarkan kita untuk membaca « ‘iqra bismi rabbika lladzi khalaq» , taat aturan hukum (athi’ullaha wa athi’u rasul wa ulil amri minkum), dan pada nilai-nilai kejujuran sebagaimana sabda Nabi « katakanlah perkataan jujur, atau lebih baik diam saja ». Sayang, kita ini seringkali terjebak pada ajaran ritual saja, pada aspek simbolik dari Islam, bukan pada inti ajaran Islam yang universal. Pada tataran politik, negara-negara Islam akibatnya gagal mewujudkan ajaran luhur Islam itu dalam sebuah sistem yang berkeadilan. Sistem keadilan, kemaslahatan yang bersifat universal inilah yang disebut dengan syariah, bukan aturan/perda syariat yang hanya dipahami dalam konteks hukum konvensional tentang rajam, potong tangan, atau jilbab.
Apakah itu berarti bahwa negara yang mayoritas penduduk Muslim tidak menjamin menunjukkan wajah Islamnya?
Bisa dikatakan demikian. Negara-negara muslim dan umatnya selama ini masih terbelenggu oleh pemikiran Islam model Ghazali saya kira. Pemikiran yang anti akal, anti kemajuan. Pemikiran yang cenderung pada teks dan mistisisme. Jika, pemikiran Ibn Rusyd kita kembangkan, yakni pemikiran cinta pengetahuan, toleran dan menghargai kemanusiaan, Insya Allah umat Islam akan segera bebas dari fitnah kejumudan, kemunduran, kekakuan dan keterbelakangan.
Benarkah pemikiran bahwa untuk bisa maju umat Islam harus meninggalkan ajaran Islam itu sendiri?
Saya sama sekali tidak sependapat. Agama, dalam hal ini Islam, justru mendorong orang untuk maju. Dalam Al-Quran, Allah menyuruh kita untuk menyeimbangkan dunia dan akhirat (wabtaghi fiima ataaka allahu daaral akhirata wa laa tansa nashibaka minad-dunya). Rasulullah juga nabi yang pandai. Kelirulah anggapan Nabi itu umi, bodoh. Dia juga mengajarkan pengetahuan dan mendorong umatnya untuk maju (thalabul ‘ilmi faridlatun ‘ala kulli muslimin wa muslimatin). Jadi, kalau ingin maju, kita, umat Islam, harus benar-benar memahami ajaran dasar Islam dan mewujudkannya dalam sebuah sistem yang baku dan berkeadilan. Kemajuan suatu peradaban, pada dasarnya, tidak terlepas dari nilai-nilai primordial yang berlaku. Peradaban Barat juga tak lepas dari nilai-nilai kekristenan. Tak ada beradaban di dunia ini yang berkembang tanpa pondasi nilai-nilai masyarakat. Islam selama lebih dari tujuh abad juga pernah jaya. Itu semua tidak bisa dilepaskan dari spirit Islam. Baru ketika Islam dikerangkeng dalam dogmatisme sempit, radikalisme, dan fundamentalismelah peradaban Islam meredub. Maka, jika kita umat Islam mau bangkit, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah membebaskan mindset dan prespektif kita tentang Islam dari belenggu-belenggu itu. Dan langkah-langkah progresif itu harus dimulai dari dunia pendidikan kita.
Sumber:
Center for Moderate Moslem Jakarta, 5 Mei 2009
