Sesal Kita dan Sesal Mereka

Pada pertempuran Hudaibiyah, kaum muslimin berazam mengunjungi Rumah Allah dengan penuh kerinduan. Tiba-tiba di tengah perjalanan, kafilah mereka dihadang oleh kaum kafir musyrik. Kemudian, Nabi membuat pakta perjanjian dengan mereka. Sehingga batal-lah niat mereka ziarah ke Kakbah. Tak pelak, tindakan Nabi ini menimbulkan protes dan kegemparan di kalangan sahabat.

Umar bin Khatab menemui Rasulullah dan mengajukan protes, ”Bukankah kita berada di pihak yang benar sedangkan musuh kita berada di pihak yang salah?” Nabi pun menjawab, ”Kamu benar.” Kata Umar, ”Mengapa engkau biarkan mereka seenaknya menghina dan meremehkan agama kita?” Nabi SAW menjawab, ”Sesungguhnya aku adalah Rasulullah.

Aku tidak berani durhaka kepada Allah. Dan Dialah penolongku.” Kemudian Umar menimpali, ”Tetapi, bukankah engkau telah mengatakan kepada kami bahwa kita akan mengunjungi Kakbah untuk thawaf?” Lalu Nabi SAW bersabda, ”Betul memang, tapi perlu aku katakan kepadamu bahwa hal itu akan kita tunaikan tahun depan saja.

”Umar protes, ”Tidak.” Nabi kembali bersabda, ”Percayalah kamu akan mengunjungi Baitullah dan berthawaf di sana.” Merasa tidak mendapat jawaban yang memuaskan, Umar menemui Abu Bakar. Namun ketika ia bertanya kepada Abu Bakar, ia mendapatkan jawaban yang sama sebagaimana jawaban Rasulullah. (HR. Bukhari Muslim).

Setelah peristiwa itu, Umar merasa berdosa besar meski Rasulullah telah memaafkannya. Untuk menghapus dosanya itu, beliau kemudian banyak beramal saleh. Seperti yang beliau tuturkan sendiri kepada Abu Ishak, ”Setelah peristiwa tersebut, lalu aku bersedekah, berpuasa, shalat, membebaskan budak, dan berbuat kebajikan apa saja yang dapat dilakukan pada waktu itu.”

Riwayat di atas memberi kita pelajaran berharga bahwa sekecil apa pun dosa yang dilakukan para sahabat selalu disusul dengan penyesalan, tetesan air mata, dan taubat. Meskipun, bisa jadi, apa yang mereka lakukan bukanlah perbuatan dosa dan kemaksiatan, sebagaimana pertanyaan kritis Umar kepada Rasulullah dalam kisah di atas. Sebab di mata mereka, dosa tersebut seakan-akan gunung besar yang siap ditimpakan kepada mereka.

Berbeda dengan generasi kita saat ini. Dosa sebesar gunung, seluas samudera pun dianggap sekecil atom dan sesempit daun kelor. Praktik manipulasi, kolusi, dan korupsi menjadi adegan lumrah di pentas politik negeri. Sikap mau menang sendiri, sok kuasa menjadi adagium popular anak negeri. Fenomena pornografi dan pornoaksi menjadi tontonan dan tuntunan lumrah dan murah. Semuanya dianggap bukan apa-apa, apalagi dosa.

Betapa terpampang jelas di mata kita jurang lebar nan dalam, kesalehan generasi para sahabat dengan kesalahan generasi saat ini. Saatnya kita merenung, betapa mata batin kita telah tertutupi daki-debu duniawi, terlumuri nafsu syahwat-hewani. Wallahu a’lam bi al-shawab.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>